Teruslah Berbuat Kebaikan, Agar Ketika Meninggalkan Dunia Kebaikanmu Akan Selalu Dikenang

Teruslah Berbuat Kebaikan, Agar Ketika Meninggalkan Dunia Kebaikanmu Akan Selalu Dikenang

Oleh : Chandra Aditya
(Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri)

Sudaraku…Dalam kehidupan kita didunia yang singkat ini, tentunya setiap manusia  mendambakan agar kehadirannya selalu memberikan sebuah arti yang bermakna, tidak ada satupun di antara kita yang ingin hidup tanpa meninggalkan bekas kebaikan. Inilah mengapa agama Islam menekankan akan pentingnya berbuat baik, karena kebaikan tidak hanya bermanfaat bagi orang lain saat kita masih hidup, tetapi juga akan menjadi legacy amal yang terus mengalir bahkan setelah kita tiada. Ini selaras dengan apa yang Allah firmankan di dalam surat Yasin ayat ke 12 :

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang nyata.”

Ayat ini menegaskan bahwa amal perbuatan setiap manusia tidak akan  pernah hilang begitu saja. Allaah selalu mencatat apa yang telah dilakukan hambanya selama hidup di dunia, bahkan bekas-bekas yang ditinggalkan setelah ia meninggalkan dunia ini. Inilah bukti bahwa kebaikan yang kita lakukan, sekecil apa pun itu, akan tetap selalu dikenang dan memberi dampak meskipun diri kita sudah tiada.

Warisan kebaikan yang tidak pernah hilang

Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menyampaikan :

“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Hadis ini tentu nya selaras dengan makna  surat Yasin ayat : 12 . bahwa setiap amal kebaikan akan terus mengalir meskipun seseorang itu sudah tiada.

* Sedekah jariyah : bisa dengan mewakafkan harta bendanya untuk kebaikan, membangun fasilitas umum  yang bermanfaat, atau dengan membangun sumur.

* Ilmu yang bermanfaat : mengajarkan membaca dan menulis , mengajarkan Al-Qur’an, atau memberi ilmu yang membawa kemaslahatan.

* Do’a anak shalih : dengan mendidik anak-anak kita agar menjadi pribadi yang beriman dan bertakwa, yang di harapkan nantinya ketika kita sudah tiada, kebaikan dan do’a mereka menjadi tambahan nikmat kebaikan untuk kita.

Saudaraku….ketiga hal ini adalah bentuk nyata dari jejak kebaikan yang disebut ayat diatas. Namun perlu kita ingat juga kebaikan yang dikenang tidaklah harus yang memiliki nilai besar dihadapan manusia, melainkan yang benar-benar ikhlas karena Allah, terkadang ada seseorang yang mungkin tidak dikenal luas, tetapi do’a dan rasa terimakasih dari orang-orang yang pernah ditolongnya akan menjadi saksi dihadapan Allah.

Ada seorang ahli hikmah mengatakan :

“Hiduplah dengan meninggalkan jejak, karena kematian bukanlah akhir. Sesungguhnya amal yang engkau tinggalkan yang akan menjadi saksi setelahmu”

Oleh sebab itu saudaraku…mari kita tanamkan kebaikan didalam setiap kesempatan kita, entah itu dengan : senyuman dan salam, menolong sesama, bergaul dengan baik, tidak menyakiti hati, atau dengan menebarkan ilmu yang bermanfaat.

Kesimpulan

Saudaraku…hidup ini singkat dan mati itu adalah kepastian. Namun yang menentukan apakah kita dikenang kebaikannya atau dilupakan begitu saja adalah amal yang kita tinggalkan. Surat Yasin ayat 12 mengingatkan kita bahwa Allah mencatat bukan hanya apa yang kita lakukan saja , tetapi juga bekas amal itu setelah kita tiada.

Maka mari kita terus berbuat kebaikan, sekecil apapun itu, karena kebaikan yang ditanam dengan rasa ikhlas akan menjadi legacy abadi yang mengalirkan pahala di alam kubur, dan meninggalkan kenangan indah untuk orang-orang yang masih hidup.

Pengaruh Kesalehan Orang Tua Terhadap Kesuksesan Anaknya

Oleh : Chandra Aditya
Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri

Refleksi Sosial

Siang itu sebelum berangkat ke kampus, iseng saya mampir ke lapak pak Yuli, penjual es puter dan rujak buah, kebetulan beliau satu alumni juga dengan saya di salah satu SMA Negeri di Kediri, tapi senior jauh dari saya. Sambil menikmati es puter yang di hidangkan, kita mengobrol tak tentu arah, namun ada satu obrolan yang membuat takjub perasaan ini, ketika saya tanya.. ‘Putra ne pinten Pak Yul’ (anaknya berapa Pak Yul ?)

‘Kaleh mas’.. (dua mas), jawabnya,

‘Tasek sekolah nopo sampun nyambut pak ?’ (masih sekolah atau sudah kerja Pak ?), sambung saya,

‘Nggih, Alhamdulillah wes nyambut mas, setunggale dados guru, setunggale teng Ambon’ (Iya, Alhamdulillah sudah kerja mas, satunya jadi guru, satunya lagi di Ambon),

Lanjut Pak Yuli dalam obrolan, nggih Alhamdulillah mas, atiku wes marem mas, anak-anak ku ditampi dados ASN sedanten (iya alhamdulillah mas, hati ku sudah puas/lega mas, anak anak ku diterima ASN semuanya)

Pada momen obrolan inilah yang membuat hati takjub, seorang bapak yang hanya berjualan es puter rujak buah. Mampu membawa anak-anak nya mencapai sebuah kesuksesan. Rasa penasaran ini terus menyelimuti hati, saya tanya lagi ‘Pak Yul, dibalik kesuksesan anak-anak e samean mesti ada pengorbanan e wong tuo, kiro kiro nopo resep e ?’ (Pak Yul, dibalik kesuksesan anak anak pasti ada pengorbanannya sebagai orang tua, kira kira apa resepnya ?),

Sambil tersenyum beliau menyampaikan ‘sampun rezekine mas’, saya timpal ‘hehehe rezeki niku sudah mutlak Pak Yul, tapi kan ya mesti ada pengorbanan, tirakat orang tua yang bisa menjadi wasilah kesuksesan anak to’,

‘Nganu mas, kulo niki kaleh nyonya niku sering tirakat Puasa Daud, sampek sak niki,  nggih mungkin niki salah setunggal e sebab e lak kulo pikir pikir’ (anu mas, saya sama istri sering Puasa Daud, sampai sekarang, mungkin ini salah satu penyebabnya kalau saya pikir pikir), 

Relevansi dengan ayat 82 surat Al Kahfi

Tidak sedikit orang tua lupa sebab non-material yang kasat mata -boleh jadi memiliki pengaruh lebih besar kepada keshalihan dan kesuksesan anak seperti doa, menjaga ibadah dan jenis keshalihan lainnya.

Al-Qur’an telah menyebutkan faktor penting untuk anak dan sebab sukses anak yaitu keshalihan orang tua. Keberkahan amal shalih orang tua akan menurunkan kebaikan dan kesuksesan kepada anak-anaknya. Kedekatan orang tua kepada Allah memiliki pengaruh kuat untuk kebaikan. Sebagaimana yang difirmankan Allah :

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shaleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (QS. Al-Kahfi: 82)

Allah memerintahkan kepada Nabi Khidir untuk memperbaiki bangunan rumah yang hampir roboh itu dengan tujuan agar harta simpanan 2 orang anak yatim itu terjaga. Sebabnya, karena kesalihan bapak mereka.

Menukil Keterangan dari Sa’id bin Jubair  bahwa orang tua mereka selalu menunaikan amanat dan titipan kepada pemiliknya. Kemudian Allah Ta’ala menjaga harta simpanannya sehingga ditemukan kedua anaknya lalu keduanya mengambilnya.

Imam Ibnu Katsir didalam tafsirnya berkata tentang ayat 82 surat Al Kahfi : 

“Di dalamnya ada dalil bahwa laki-laki yang shalih akan dijaga keturunannya. Ini mencakup keberkahan ibadahnya untuk anak turunnya di dunia dan akhirat dengan syafaatnya untuk mereka, diangkat derajat mereka ke tingkatan lebih tinggi di surga agar gembira melihat mereka sebagaimana diterangkan di Al-Qur’an dan disebutkan Sunnah.”

Kesimpulan

‎‎Dari obrolan singkat itu, membuat termenung didalam hati , “mungkin orang tua tidak bisa merasakan keberhasilan didalam hidupnya saat ini , namun apa yang sudah dikorbankan dengan tidak meninggalkan ketaatan kepada Allah, mungkin inilah jalan keberhasilan untuk anak anaknya”. Masih panjang obrolan kami, tapi inilah titik dimana membuat saya berfikir.

PDA Kota Kediri Resmi Kukuhkan Empat Bidang Strategis: BIKKSA, BAKESSOS, ISWARA dan POSBAKUM

Kediri, 3 Agustus 2025 — Dalam langkah besar memperkuat struktur dan ekosistem pemberdayaan perempuan serta masyarakat, Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kota Kediri secara resmi membentuk dan melantik empat bidang strategis dalam satu rangkaian acara yang khidmat. Bertempat di Aula Satu Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM) Kota Kediri, Ahad (3/8/2025), kegiatan ini dihadiri oleh seluruh pengurus ‘Aisyiyah se-Kota Kediri.

Empat bidang yang baru dibentuk tersebut adalah:

  • BIKKSA (Bina Keluarga Sakinah)
  • BAKESSOS (Balai Kesejahteraan Sosial)
  • ISWARA (Ikatan Saudagar ‘Aisyiyah)
  • POSBAKUM (Pos Bantuan Hukum)

Pelantikan dan pengukuhan para ketua beserta jajaran pengurus masing-masing bidang dilakukan secara simbolis oleh Ibu Shoimah Budiyati, Ketua PDA Kota Kediri, sebagai wujud komitmen organisasi dalam memperluas dampak dakwah sosial di era kontemporer.

Dalam sambutannya, Ibu Shoimah menyampaikan harapan agar keberadaan bidang-bidang baru ini dapat menjadi garda depan dalam menjalankan visi dan misi PDA Kota Kediri.

“Semoga bidang-bidang yang kita bentuk hari ini tidak hanya menjadi nama semata, tetapi benar-benar hadir sebagai solusi nyata bagi masyarakat. Mari kita jaga amanah ini dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Beliau juga menekankan pentingnya sinergi antar bidang, profesionalisme, dan konsistensi dalam menjalankan program kerja. “Sebuah organisasi kuat bukan karena jumlah pengurusnya, tapi karena kualitas aksi dan ketulusan niat. Semoga setiap langkah kita diridhai Allah SWT,” tambahnya.

Adapun para ketua yang dikukuhkan untuk periode ini adalah:

  • Hidayatin Nasikah – Ketua BIKKSA
  • Dra. Nur Khafidloh – Ketua BAKESSOS
  • Yuli Setyowati – Ketua ISWARA
  • Budhi Utami – Ketua POSBAKUM

Masing-masing bidang memiliki fokus tugas yang spesifik namun saling melengkapi:

  • BIKKSA akan fokus pada penguatan keluarga sakinah melalui edukasi pra-nikah, parenting, dan pendampingan rumah tangga.
  • BAKESSOS bertugas mengelola program kesejahteraan sosial seperti santunan, bantuan korban bencana, dan pemberdayaan ekonomi warga kurang mampu.
  • ISWARA menjadi wadah pemberdayaan ekonomi perempuan ‘Aisyiyah melalui pengembangan usaha mikro, jaringan bisnis, dan pelatihan kewirausahaan.
  • POSBAKUM hadir sebagai layanan publik gratis untuk memberikan pendampingan hukum kepada perempuan, anak, dan masyarakat marjinal.

Acara yang diwarnai nuansa kekeluargaan dan semangat gotong royong ini diharapkan menjadi awal dari geliat baru gerakan ‘Aisyiyah di Kota Kediri—lebih inklusif, responsif, dan berkemajuan.

“Ini bukan puncak, tapi awal perjalanan. Mari kita isi dengan kerja nyata,” tutup Ibu Shoimah. (mLs)

Kehidupan Kebangsaan dan Kenegaraan dalam Perspektif Muhammadiyah

Sebagai salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, Muhammadiyah tidak hanya berkiprah dalam bidang pendidikan, kesehatan, atau pemberdayaan masyarakat. Lebih dari itu, Muhammadiyah juga memiliki kontribusi besar dalam merumuskan bagaimana *Islam untuk bangsa dan negara* bisa diwujudkan secara nyata. Dalam pandangan Muhammadiyah, ajaran Islam bukan hanya soal ibadah ritual semata, tetapi juga menyangkut tanggung jawab moral, sosial, dan politik bagi kemajuan bangsa.

Islam sebagai Agama yang Mencintai Tanah Air

Salah satu prinsip penting dalam tradisi Muhammadiyah adalah keyakinan bahwa hubbul watan minal iman—mencintai tanah air adalah sebagian dari iman. Prinsip ini menjadi dasar bagi umat Islam untuk turut serta dalam membangun bangsa dan negara dengan penuh tanggung jawab. Dengan demikian, *Islam untuk Indonesia* bukanlah sebuah kontradiksi, melainkan bagian integral dari pengamalan ajaran agama yang utuh.

Muhammadiyah meyakini bahwa negara kesatuan Republik Indonesia adalah bentuk final dari upaya bersama seluruh rakyat Indonesia dalam mencapai cita-cita proklamasi: melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Islam dalam Kerangka Pancasila dan UUD 1945

Dalam hal ideologi, Muhammadiyah sejak awal mendukung Pancasila sebagai dasar negara. Ia dipandang sebagai hasil ijtima’ (konsensus) para founding fathers yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa dan ajaran Islam yang universal. Dengan demikian, *islam untuk bangsa dan negara* tidak harus mengubah dasar negara, tetapi justru hidup di dalamnya sebagai spirit moral pembangunan dan penyelenggaraan negara.

Pancasila, dalam pandangan Muhammadiyah, tidak bertentangan dengan syariat Islam, karena ia merupakan kerangka nilai yang bisa diterjemahkan dalam bentuk perilaku islami oleh setiap warga negara. Demikian pula dengan UUD 1945, yang memberikan ruang bagi umat Islam untuk menjalankan ajarannya secara damai, toleran, dan inklusif.

Kontribusi Muhammadiyah dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Sebagai gerakan Islam yang berkemajuan, Muhammadiyah telah banyak berkontribusi dalam pembangunan nasional. Selain melalui amal usaha di bidang pendidikan dan kesehatan, Muhammadiyah juga aktif dalam isu-isu kebangsaan seperti:

– Penguatan moderasi beragama

– Pembelaan terhadap nilai-nilai demokrasi

– Penegakan hukum dan keadilan sosial

– Partisipasi dalam diplomasi perdamaian

– Pengembangan ekonomi kerakyatan

Melalui cara ini, Muhammadiyah membuktikan bahwa *Islam untuk Indonesia* bukan hanya retorika belaka, tetapi sebuah komitmen untuk menjadikan agama sebagai kekuatan pemersatu dan perekat kebhinekaan.

Meneguhkan Islam Berkemajuan untuk Indonesia Maju

Di tengah tantangan globalisasi, polarisasi ideologis, dan hoaks berlabel agama, Muhammadiyah terus menegaskan posisinya sebagai garda depan dalam mempertahankan NKRI dan menjaga harmoni kehidupan bermasyarakat. Dengan pendekatan rasional, ilmiah, dan humanis, Muhammadiyah ingin menunjukkan bahwa Islam bisa menjadi solusi, bukan problem dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dengan demikian, *islam untuk bangsa dan negara* menurut Muhammadiyah adalah Islam yang aktif dalam medan sosial, yang tidak hanya peduli pada akhirat, tetapi juga berperan nyata dalam membangun peradaban dunia, termasuk Indonesia tercinta. (mLs)

Menggali Hikmah Wahyu untuk Kehidupan Modern

Sebagai kitab suci umat Islam yang diturunkan lebih dari 14 abad lalu, *Al-Qur’an* tidak hanya berbicara tentang ritual keagamaan semata, tetapi juga menyangkut aspek moral, sosial, politik, hukum, serta hubungan manusia dengan alam semesta. Dalam konteks modern seperti saat ini, pemahaman terhadap *tafsir Qur’an* perlu dilakukan secara kontekstual dan progresif agar ajarannya tetap relevan dan memberikan solusi nyata bagi kehidupan umat.

Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan telah mengembangkan pendekatan tafsir yang tidak sekadar menjelaskan makna tekstual ayat, tetapi lebih jauh memahami konteks historis, sosial, dan budaya di balik turunnya wahyu. Pendekatan ini dikenal sebagai tafsir kontekstual dan progresif, yang bertujuan menghubungkan pesan-pesan *Al-Qur’an* dengan tantangan zaman tanpa harus menyimpang dari esensi ajaran Islam.

Apa Itu Tafsir Kontekstual dan Progresif ?

Tafsir kontekstual adalah cara memahami *tafsir Qur’an* dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi ketika ayat diturunkan (asbab an-nuzul), serta relevansinya dalam konteks masa kini. Sementara itu, tafsir progresif mengarah pada upaya memahami Al-Qur’an sebagai sumber nilai yang mendorong kemajuan, perdamaian, kesetaraan, dan kemaslahatan umat.

Berbeda dengan tafsir literal atau tekstual yang cenderung statis, tafsir kontekstual-progresif melihat bahwa pesan Al-Qur’an bersifat universal dan bisa diterapkan dalam berbagai zaman dan tempat. Ia tidak hanya menjawab pertanyaan “apa kata Al-Qur’an?”, tetapi juga “apa maknanya bagi kita hari ini ?”

Prinsip Dasar dalam Tafsir Muhammadiyah

Dalam tradisi Muhammadiyah, tafsir *Al-Qur’an* selalu dikembangkan dengan prinsip-prinsip berikut:

1. *Berpegang pada Maqashid Syariah* – yaitu tujuan utama syariat Islam seperti menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

2. *Menggunakan Pendekatan Ilmu Pengetahuan* – memanfaatkan ilmu sejarah, linguistik, sosiologi, dan ilmu pengetahuan lain untuk memperkaya pemahaman.

3. *Menjunjung Tinggi Nilai Kemanusiaan* – menempatkan manusia sebagai pusat dari ajaran Islam, termasuk hak asasi manusia, keadilan, dan kesetaraan.

4. *Berorientasi pada Kemaslahatan Umat* – memprioritaskan interpretasi yang membawa manfaat luas bagi umat, baik secara spiritual maupun duniawi.

Contoh Penerapan Tafsir Kontekstual-Progresif

Salah satu contoh penerapan tafsir kontekstual-progresif adalah dalam isu kesetaraan gender. Dalam beberapa ayat yang berkaitan dengan hak perempuan, Muhammadiyah cenderung membacanya dalam konteks historis, di mana struktur masyarakat Arab pra-Islam sangat patriarkis. Dengan demikian, interpretasi atas ayat-ayat tersebut dilakukan dengan melihat spirit pemberdayaan perempuan sebagai bagian dari ajaran *Al-Qur’an* yang sesuai dengan prinsip keadilan dan kesetaraan.

Selain itu, dalam isu lingkungan hidup, tafsir kontekstual-progresif digunakan untuk memahami ayat-ayat yang berbicara tentang alam semesta sebagai tanda-tanda kebesaran Allah. Ini menjadi dasar bagi Muhammadiyah untuk aktif dalam gerakan peduli lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Pentingnya Tafsir Kontekstual dalam Dakwah Berkemajuan

Pendekatan tafsir ini sangat penting dalam kerangka Islam Berkemajuan yang menjadi visi Muhammadiyah. Di tengah arus informasi yang cepat dan kompleksitas masalah global, umat Islam membutuhkan pemahaman *tafsir Qur’an* yang tidak kaku, tetapi tetap otentik dan bermakna mendalam.

Dengan tafsir kontekstual dan progresif, Al-Qur’an tidak lagi dipandang sebagai kitab yang hanya menjawab pertanyaan masa lalu, tetapi sebagai sumber inspirasi dan solusi bagi tantangan masa kini dan masa depan.

Penutup

Tafsir *Al-Qur’an* secara kontekstual dan progresif adalah wujud tanggung jawab intelektual dan spiritual umat Islam dalam menghayati wahyu Ilahi di tengah dinamika zaman. Muhammadiyah telah menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan pendekatan ini sebagai bagian dari misi dakwah yang tidak hanya menyentuh hati, tetapi juga mencerdaskan akal dan membangun peradaban. Dengan demikian, *tafsir Qur’an* tidak hanya menjadi bacaan ritual, tetapi juga menjadi panduan hidup yang nyata dan relevan bagi umat manusia. (mLs)

Merumuskan Kebenaran dengan Pendekatan Ilmiah dan Objektif

Dalam dinamika kehidupan beragama, umat Islam sering dihadapkan pada perbedaan pandangan mengenai hukum, ajaran, atau praktik keagamaan. Di tengah pluralitas pemikiran tersebut, Muhammadiyah memiliki mekanisme tersendiri untuk menjawab keragaman tersebut melalui *Manhaj Tarjih, sebuah pendekatan metodologis yang bertujuan meneguhkan prinsip *benar dalam keyakinan dan bijak dalam sikap.

Apa Itu Manhaj Tarjih ?

*Tarjih* berasal dari bahasa Arab yang berarti “memilih” atau “menetapkan”. Dalam konteks Muhammadiyah, *tarjih* adalah proses pengambilan keputusan terhadap berbagai alternatif hukum atau pendapat fiqih dengan menggunakan metode ilmiah, argumentatif, dan objektif. Tujuannya adalah memberikan pedoman yang jelas kepada warga Muhammadiyah dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara benar dan relevan dengan konteks zaman.

Majelis Tarjih dan Tajdid sebagai lembaga otoritatif dalam Muhammadiyah bertugas untuk melakukan tarjih atas berbagai masalah fikih, akidah, maupun moral yang menjadi polemik di masyarakat. Hasil-hasil tarjih ini kemudian disampaikan dalam bentuk fatwa amaliyah yang bersifat rekomendatif, bukan memaksa, namun menjadi rujukan bagi warga dalam menjalani kehidupan beragama.

Prinsip Dasar dalam Manhaj Tarjih

Manhaj Tarjih Muhammadiyah tidak dibangun atas dasar subjektivitas atau preferensi kelompok tertentu, tetapi berlandaskan prinsip-prinsip berikut:

1. *Berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah* sebagai sumber utama ajaran Islam.

2. *Memperhatikan konteks (sya’n wa zaman)* agar hukum yang dihasilkan sesuai dengan realitas sosial dan budaya.

3. *Menggunakan metode ijtihad kontemporer* yang mempertimbangkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

4. *Bersifat inklusif dan dialogis*, dengan tetap menghormati perbedaan pendapat selama berada dalam koridor syariah.

5. *Menjunjung tinggi nilai-nilai kemaslahatan (maslahah mursalah)* sebagai pertimbangan dalam penetapan hukum.

Contoh Penerapan Tarjih dalam Kehidupan Nyata

Salah satu contoh nyata dari hasil *tarjih* adalah keputusan tentang penentuan awal bulan Ramadhan dan Idul Fitri yang menggunakan metode hisab imkanur rukyat. Pendekatan ini mencerminkan keselarasan antara ilmu pengetahuan modern dan syariat, serta menjawab kebutuhan akan kepastian waktu ibadah secara nasional.

Selain itu, Majelis Tarjih juga telah memberikan panduan tentang hukum vaksin, donor darah, zakat profesi, hingga pemanfaatan teknologi digital dalam ibadah. Semua ini menunjukkan bahwa *tarjih* tidak hanya bicara soal masa lalu, tetapi juga hadir sebagai solusi di tengah tantangan masa kini.

Pentingnya Tarjih dalam Dakwah Berkemajuan

Sebagai gerakan dakwah dan tajdid, Muhammadiyah menyadari bahwa kebenaran agama harus dirumuskan dengan cara yang ilmiah dan terbuka. Oleh karena itu, *tarjih* menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga keseimbangan antara idealisme keagamaan dan pragmatisme sosial.

Dengan manhaj tarjih, Muhammadiyah berhasil menempatkan diri sebagai organisasi Islam yang tidak mudah terbawa arus fanatisme buta atau relativisme berlebihan. Ia menjadi teladan dalam membangun tradisi berpikir yang sehat, rasional, dan produktif di tengah masyarakat muslim Indonesia.

Penutup

*Tarjih* adalah ruh dari pemikiran keislaman Muhammadiyah. Ia bukan sekadar alat untuk memilih pendapat, tetapi lebih jauh merupakan upaya untuk menghidupkan semangat berpikir kritis dan bertindak bijaksana dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dengan manhaj tarjih, Muhammadiyah membuktikan bahwa Islam bisa dikembangkan secara progresif tanpa meninggalkan akarnya. (mLs)

Menghidupkan Dakwah Islam Di Masa Kini

Sejak berdirinya pada tahun 1912, Muhammadiyah telah menempatkan diri sebagai *gerakan pembaharu Islam* yang konsisten menjalankan misi tajdid (pembaharuan) dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Gerakan ini tidak hanya berfokus pada aspek ritual keagamaan semata, tetapi juga pada upaya memperbaiki struktur pemikiran, sosial, pendidikan, serta moral umat Islam di Indonesia.

Pada intinya, Muhammadiyah adalah wujud nyata dari *dakwah Islam* yang progresif—menyeru kepada nilai-nilai kebenaran dengan cara yang rasional, terbuka, dan sesuai dengan perkembangan zaman. Ia bukan sekadar gerakan pengajian atau penyebaran ajaran agama secara verbal, tetapi lebih jauh merupakan transformasi masyarakat ke arah yang lebih baik melalui pendekatan ilmu, amal, dan peradaban.

Misi Dakwah yang Komprehensif

Dalam pandangan Muhammadiyah, *dakwah Islam* tidak cukup hanya mengajarkan tata cara ibadah atau membaca kitab kuning. Lebih dari itu, dakwah harus menyentuh seluruh dimensi kehidupan manusia: spiritual, intelektual, ekonomi, politik, hingga budaya. Oleh karena itu, Muhammadiyah memilih jalur amal usaha sebagai sarana utama dakwahnya.

Melalui amal usaha seperti sekolah, rumah sakit, perguruan tinggi, panti asuhan, dan lembaga kemanusiaan, Muhammadiyah membuktikan bahwa Islam bisa menjadi solusi bagi berbagai masalah kemanusiaan. Dakwah yang seperti ini tidak hanya menyasar hati, tetapi juga akal dan perilaku masyarakat secara luas.

Tajdid sebagai Jiwa Muhammadiyah

Karakteristik utama Muhammadiyah sebagai *gerakan pembaharu Islam* tampak dalam komitmennya terhadap prinsip tajdid, yaitu pembaharuan dalam pemahaman dan pengamalan ajaran Islam. Tajdid mencakup beberapa hal penting, antara lain:

– Menolak khurafat, bid’ah yang tidak berdasar, dan tradisi yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

– Memperbaharui metode pendidikan agama agar lebih relevan dengan perkembangan zaman.

– Menggunakan ijtihad untuk menjawab tantangan baru yang belum ada pada masa salaf.

– Mendorong umat Islam untuk terlibat aktif dalam pembangunan bangsa dan negara.

Tajdid yang dilakukan Muhammadiyah bukanlah penolakan terhadap tradisi lama secara keseluruhan, tetapi lebih kepada penyaringan dan penyempurnaan agar ajaran Islam tetap murni, namun mudah dipahami dan diamalkan oleh generasi kini dan mendatang.

Relevansi Tajdid dalam Tantangan Zaman

Di tengah era digital dan globalisasi, tantangan *dakwah Islam* semakin kompleks. Radikalisme, hoaks berlabel agama, dekadensi moral, hingga ketimpangan sosial menjadi medan dakwah yang tak boleh diabaikan. Di sinilah Muhammadiyah kembali menunjukkan perannya sebagai *gerakan pembaharu Islam* yang tetap relevan.

Muhammadiyah tidak ragu menggunakan teknologi informasi untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang moderat dan toleran. Selain itu, ia juga aktif dalam isu-isu lingkungan, hak perempuan, hingga keadilan sosial—semua ini merupakan bagian dari tajdid yang tidak terbatas pada ruang shalat, tetapi merambah ke ranah publik.

Penutup

Gerakan dakwah dan tajdid Muhammadiyah adalah jawaban atas kebutuhan umat akan sebuah alternatif ber-Islam yang tidak kaku, tetapi tetap berpegang teguh pada sumber primer wahyu Ilahi. Dengan menjadikan Islam Berkemajuan sebagai paradigma, Muhammadiyah berhasil membawa ajaran Islam ke dalam ruang-ruang konkret kehidupan modern.

Sebagai *gerakan pembaharu Islam, Muhammadiyah telah menorehkan sejarah panjang dalam membangun peradaban. Dan sebagai pelaku **dakwah Islam*, ia terus berusaha menyinari jalan menuju kebaikan dengan ilmu, amal, dan kasih sayang. (mLs)

Panduan Hidup Berdasarkan Tuntutan Islam Berkemajuan

Sebagai gerakan dakwah dan tajdid yang telah berdiri sejak 1912, Muhammadiyah senantiasa berupaya memberikan arahan bagi warganya dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sesuai dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah. Salah satu bentuk komitmen tersebut adalah lahirnya *Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM)*—sebuah dokumen normatif yang menjadi panduan hidup bagi setiap anggota dan simpatisan Muhammadiyah.

PHIWM bukan sekadar himpunan aturan atau larangan semata. Lebih dari itu, ia merupakan refleksi dari *tuntutan Islam* yang menyeluruh, mencakup aspek iman, ilmu, ibadah, akhlak, serta tanggung jawab sosial kemasyarakatan. PHIWM dirumuskan sebagai pegangan moral dan spiritual untuk mewujudkan pribadi muslim yang taat, cerdas, progresif, dan peduli pada lingkungan sekitar.

Latar Belakang Hadirnya PHIWM

Dalam dinamika zaman yang semakin kompleks, tantangan kehidupan umat Islam tidak hanya berkaitan dengan masalah ritual semata, tetapi juga etika, teknologi, media sosial, pluralitas, hingga isu-isu global seperti perubahan iklim dan krisis moral. Dalam kondisi ini, diperlukan sebuah *panduan hidup* yang jelas, kokoh secara syariah, namun fleksibel dalam konteks aplikasinya.

Muhammadiyah merasa perlu mengembangkan PHIWM sebagai upaya untuk memperkuat identitas dan integritas warganya. Dokumen ini diharapkan menjadi fondasi bagi seluruh aktivitas amal usaha dan gerakan Muhammadiyah, baik di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, maupun pemberdayaan masyarakat.

Prinsip Dasar PHIWM

PHIWM terdiri dari beberapa prinsip utama yang mencerminkan visi Islam Berkemajuan. Beberapa di antaranya adalah:

1. *Berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah* sebagai sumber utama ajaran Islam.

2. *Mengedepankan ijtihad dan pemikiran rasional* dalam menyelesaikan masalah kontemporer.

3. *Menjunjung tinggi akhlak mulia*, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun bermasyarakat.

4. *Mengamalkan ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah* dengan kesadaran bahwa semua aktivitas bisa bernilai ibadah jika dilakukan dengan niat benar.

5. *Menjadi teladan dalam toleransi dan kerukunan hidup beragama*, serta menghormati perbedaan tanpa harus kehilangan identitas keislaman.

6. *Berdakwah secara bil-hikmah wa al-mau’izhah al-hasanah*, dengan cara bijaksana dan santun.

Implementasi PHIWM dalam Kehidupan Sehari-hari

PHIWM tidak dimaksudkan sebagai dokumen formal yang hanya disimpan di lemari rapat. Ia adalah jiwa dari aktivitas harian warga Muhammadiyah. Misalnya, dalam dunia pendidikan, guru dan siswa Muhammadiyah diajarkan untuk tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki karakter kuat dan akhlak mulia. Di bidang kesehatan, rumah sakit dan klinik Muhammadiyah hadir sebagai simbol kasih sayang Allah kepada sesama manusia.

Di tengah masyarakat, warga Muhammadiyah didorong untuk aktif dalam kegiatan sosial, lingkungan, dan pembangunan bangsa, karena hal ini bagian dari *tuntutan Islam* sebagai agama yang tidak hanya berbicara tentang surga, tetapi juga tentang keadilan, perdamaian, dan kemaslahatan umat.

Penutup

Dengan adanya PHIWM, Muhammadiyah ingin menunjukkan bahwa Islam bukan hanya agama ritual, tetapi juga sistem hidup yang menyeluruh. Ia adalah *panduan hidup* yang membimbing umat agar tetap berada di jalan lurus, meskipun badai perubahan zaman terus menerjang. PHIWM menjadi salah satu fondasi penting dalam mewujudkan cita-cita luhur Muhammadiyah: menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). (mLs)