Merumuskan Kebenaran dengan Pendekatan Ilmiah dan Objektif

Dalam dinamika kehidupan beragama, umat Islam sering dihadapkan pada perbedaan pandangan mengenai hukum, ajaran, atau praktik keagamaan. Di tengah pluralitas pemikiran tersebut, Muhammadiyah memiliki mekanisme tersendiri untuk menjawab keragaman tersebut melalui *Manhaj Tarjih, sebuah pendekatan metodologis yang bertujuan meneguhkan prinsip *benar dalam keyakinan dan bijak dalam sikap.

Apa Itu Manhaj Tarjih ?

*Tarjih* berasal dari bahasa Arab yang berarti “memilih” atau “menetapkan”. Dalam konteks Muhammadiyah, *tarjih* adalah proses pengambilan keputusan terhadap berbagai alternatif hukum atau pendapat fiqih dengan menggunakan metode ilmiah, argumentatif, dan objektif. Tujuannya adalah memberikan pedoman yang jelas kepada warga Muhammadiyah dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara benar dan relevan dengan konteks zaman.

Majelis Tarjih dan Tajdid sebagai lembaga otoritatif dalam Muhammadiyah bertugas untuk melakukan tarjih atas berbagai masalah fikih, akidah, maupun moral yang menjadi polemik di masyarakat. Hasil-hasil tarjih ini kemudian disampaikan dalam bentuk fatwa amaliyah yang bersifat rekomendatif, bukan memaksa, namun menjadi rujukan bagi warga dalam menjalani kehidupan beragama.

Prinsip Dasar dalam Manhaj Tarjih

Manhaj Tarjih Muhammadiyah tidak dibangun atas dasar subjektivitas atau preferensi kelompok tertentu, tetapi berlandaskan prinsip-prinsip berikut:

1. *Berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah* sebagai sumber utama ajaran Islam.

2. *Memperhatikan konteks (sya’n wa zaman)* agar hukum yang dihasilkan sesuai dengan realitas sosial dan budaya.

3. *Menggunakan metode ijtihad kontemporer* yang mempertimbangkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

4. *Bersifat inklusif dan dialogis*, dengan tetap menghormati perbedaan pendapat selama berada dalam koridor syariah.

5. *Menjunjung tinggi nilai-nilai kemaslahatan (maslahah mursalah)* sebagai pertimbangan dalam penetapan hukum.

Contoh Penerapan Tarjih dalam Kehidupan Nyata

Salah satu contoh nyata dari hasil *tarjih* adalah keputusan tentang penentuan awal bulan Ramadhan dan Idul Fitri yang menggunakan metode hisab imkanur rukyat. Pendekatan ini mencerminkan keselarasan antara ilmu pengetahuan modern dan syariat, serta menjawab kebutuhan akan kepastian waktu ibadah secara nasional.

Selain itu, Majelis Tarjih juga telah memberikan panduan tentang hukum vaksin, donor darah, zakat profesi, hingga pemanfaatan teknologi digital dalam ibadah. Semua ini menunjukkan bahwa *tarjih* tidak hanya bicara soal masa lalu, tetapi juga hadir sebagai solusi di tengah tantangan masa kini.

Pentingnya Tarjih dalam Dakwah Berkemajuan

Sebagai gerakan dakwah dan tajdid, Muhammadiyah menyadari bahwa kebenaran agama harus dirumuskan dengan cara yang ilmiah dan terbuka. Oleh karena itu, *tarjih* menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga keseimbangan antara idealisme keagamaan dan pragmatisme sosial.

Dengan manhaj tarjih, Muhammadiyah berhasil menempatkan diri sebagai organisasi Islam yang tidak mudah terbawa arus fanatisme buta atau relativisme berlebihan. Ia menjadi teladan dalam membangun tradisi berpikir yang sehat, rasional, dan produktif di tengah masyarakat muslim Indonesia.

Penutup

*Tarjih* adalah ruh dari pemikiran keislaman Muhammadiyah. Ia bukan sekadar alat untuk memilih pendapat, tetapi lebih jauh merupakan upaya untuk menghidupkan semangat berpikir kritis dan bertindak bijaksana dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dengan manhaj tarjih, Muhammadiyah membuktikan bahwa Islam bisa dikembangkan secara progresif tanpa meninggalkan akarnya. (mLs)

Leave Comments