Pengaruh Kesalehan Orang Tua Terhadap Kesuksesan Anaknya

Oleh : Chandra Aditya
Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri

Refleksi Sosial

Siang itu sebelum berangkat ke kampus, iseng saya mampir ke lapak pak Yuli, penjual es puter dan rujak buah, kebetulan beliau satu alumni juga dengan saya di salah satu SMA Negeri di Kediri, tapi senior jauh dari saya. Sambil menikmati es puter yang di hidangkan, kita mengobrol tak tentu arah, namun ada satu obrolan yang membuat takjub perasaan ini, ketika saya tanya.. ‘Putra ne pinten Pak Yul’ (anaknya berapa Pak Yul ?)

‘Kaleh mas’.. (dua mas), jawabnya,

‘Tasek sekolah nopo sampun nyambut pak ?’ (masih sekolah atau sudah kerja Pak ?), sambung saya,

‘Nggih, Alhamdulillah wes nyambut mas, setunggale dados guru, setunggale teng Ambon’ (Iya, Alhamdulillah sudah kerja mas, satunya jadi guru, satunya lagi di Ambon),

Lanjut Pak Yuli dalam obrolan, nggih Alhamdulillah mas, atiku wes marem mas, anak-anak ku ditampi dados ASN sedanten (iya alhamdulillah mas, hati ku sudah puas/lega mas, anak anak ku diterima ASN semuanya)

Pada momen obrolan inilah yang membuat hati takjub, seorang bapak yang hanya berjualan es puter rujak buah. Mampu membawa anak-anak nya mencapai sebuah kesuksesan. Rasa penasaran ini terus menyelimuti hati, saya tanya lagi ‘Pak Yul, dibalik kesuksesan anak-anak e samean mesti ada pengorbanan e wong tuo, kiro kiro nopo resep e ?’ (Pak Yul, dibalik kesuksesan anak anak pasti ada pengorbanannya sebagai orang tua, kira kira apa resepnya ?),

Sambil tersenyum beliau menyampaikan ‘sampun rezekine mas’, saya timpal ‘hehehe rezeki niku sudah mutlak Pak Yul, tapi kan ya mesti ada pengorbanan, tirakat orang tua yang bisa menjadi wasilah kesuksesan anak to’,

‘Nganu mas, kulo niki kaleh nyonya niku sering tirakat Puasa Daud, sampek sak niki,  nggih mungkin niki salah setunggal e sebab e lak kulo pikir pikir’ (anu mas, saya sama istri sering Puasa Daud, sampai sekarang, mungkin ini salah satu penyebabnya kalau saya pikir pikir), 

Relevansi dengan ayat 82 surat Al Kahfi

Tidak sedikit orang tua lupa sebab non-material yang kasat mata -boleh jadi memiliki pengaruh lebih besar kepada keshalihan dan kesuksesan anak seperti doa, menjaga ibadah dan jenis keshalihan lainnya.

Al-Qur’an telah menyebutkan faktor penting untuk anak dan sebab sukses anak yaitu keshalihan orang tua. Keberkahan amal shalih orang tua akan menurunkan kebaikan dan kesuksesan kepada anak-anaknya. Kedekatan orang tua kepada Allah memiliki pengaruh kuat untuk kebaikan. Sebagaimana yang difirmankan Allah :

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shaleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (QS. Al-Kahfi: 82)

Allah memerintahkan kepada Nabi Khidir untuk memperbaiki bangunan rumah yang hampir roboh itu dengan tujuan agar harta simpanan 2 orang anak yatim itu terjaga. Sebabnya, karena kesalihan bapak mereka.

Menukil Keterangan dari Sa’id bin Jubair  bahwa orang tua mereka selalu menunaikan amanat dan titipan kepada pemiliknya. Kemudian Allah Ta’ala menjaga harta simpanannya sehingga ditemukan kedua anaknya lalu keduanya mengambilnya.

Imam Ibnu Katsir didalam tafsirnya berkata tentang ayat 82 surat Al Kahfi : 

“Di dalamnya ada dalil bahwa laki-laki yang shalih akan dijaga keturunannya. Ini mencakup keberkahan ibadahnya untuk anak turunnya di dunia dan akhirat dengan syafaatnya untuk mereka, diangkat derajat mereka ke tingkatan lebih tinggi di surga agar gembira melihat mereka sebagaimana diterangkan di Al-Qur’an dan disebutkan Sunnah.”

Kesimpulan

‎‎Dari obrolan singkat itu, membuat termenung didalam hati , “mungkin orang tua tidak bisa merasakan keberhasilan didalam hidupnya saat ini , namun apa yang sudah dikorbankan dengan tidak meninggalkan ketaatan kepada Allah, mungkin inilah jalan keberhasilan untuk anak anaknya”. Masih panjang obrolan kami, tapi inilah titik dimana membuat saya berfikir.

Leave Comments