Mengapa Nasehat Harus Selalu Diulang

Mengapa Nasehat Harus Selalu Diulang

Oleh : Chandra Aditya
(Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri)

‎Saudara ku dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita mendengar nasihat yang sama diulang-ulang. Entah dari orang tua, guru, ustaz, ataupun para ulama. Terkadang muncul sebuah pertanyaan, “Mengapa nasihat harus diulangi terus, padahal sudah pernah disampaikan?”.

Kalau kita melihat dengan pandangan Islam, tentunya pengulangan nasihat itu justru memiliki hikmah dan nilai yang sangat besar. ‎Kita sebagai manusia pada dasarnya adalah makhluk yang mudah lupa. Oleh karena itulah, manusia sangat membutuhkan pengingat. Allah sudah menegaskan dalam Al-Qur’an:

‎“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.”
‎(QS. Adz-Dzariyat: 55)

‎‎Ayat ini menunjukkan bahwa nasihat yang diulang-ulang bukanlah hal yang sia-sia, melainkan sarana agar hati yang lalai kembali sadar.

‎Nasihat juga ibarat obat hati. Sebagaimana tubuh membutuhkan makanan setiap hari agar kuat, hati pun juga memerlukan makanan iman secara terus-menerus agar tetap hidup. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sering mengulang-ulang nasihat penting kepada para sahabatnya, terutama tentang pentingnya salat, memiliki akhlak yang baik, serta menjaga lisan. Hal ini dilakukan karena hati manusia bisa mengeras, dan hanya dengan pengingat yang terus diberikan hati dapat menjadi lembut kembali.

‎Selain itu ilmu dan pesan nasihat kebaikan yang hanya didengar sekali mudah hilang begitu saja. Dengan pengulangan, nasihat akan lebih kuat tertanam di dalam jiwa. Bahkan Al-Qur’an pun berulang kali menceritakan kisah para nabi dan mengingatkan kita tentang kebesaran Allah serta hari kiamat. Semua itu memiliki hikmah yang besar, yaitu agar manusia semakin ingat, semakin paham, dan semakin siap dalam menghadapi kehidupan.

‎Nasihat yang terus kali diulang, disampaikan, bukan berarti hanya untuk orang lain saja, tetapi juga untuk diri kita sendiri. Setiap kali mendengar nasihat, sesungguhnya itu adalah cermin bagi hati kita, agar kembali muhasabah. Bahkan seorang ustaz atau ulama, ketika menyampaikan nasihat, sebenarnya sedang menasihati dirinya terlebih dahulu.

‎Pengulangan nasihat juga merupakan wujud kasih sayang. Orang tua yang tak pernah lelah mengingatkan anaknya untuk salat, guru yang terus selalu mengingatkan pentingnya kejujuran, atau ulama yang berkali-kali menyeru umat agar bertakwa semuanya itu adalah tanda perhatian, kepedulian serta kasih sayang. Karena sekali saja manusia lalai, ia bisa terjerumus dalam dosa yang besar.

‎Lebih dari itu, setiap zaman ada masanya, dan setiap masa ada orangnya. Kita juga perlu mengingat bahwa akan selalu ada generasi penerus kedepan yang hadir, maka nasihat harus terus diulang agar mereka pun mendapatkan bimbingan. Apa yang kita dengar hari ini bisa menjadi bekal penting bagi anak-anak kita di masa depan. Dengan demikian, nasihat tidak akan pernah hilang, justru selalu relevan dari waktu ke waktu.

Belum tentu pula semua orang di sekitar kita sudah memahami agama. Ada yang baru belajar, ada yang masih lalai, bahkan ada yang sama sekali belum mengenalnya dengan baik. Oleh karena itu dengan terus menyampaikan nasihat, yang belum tahu akan menjadi tahu, yang lupa bisa diingatkan, dan yang sudah paham akan semakin kuat dalam keyakinannya.

‎Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sudah mengingatkan kita bahwa: ‎ “agama adalah nasihat”. (HR. Muslim)

‎Tentunya ini mengisyaratkan bahwa nasihat adalah inti dari agama, sehingga memang harus disampaikan terus-menerus.

‎Saudaraku mengulang-ulang nasihat bukanlah tanda kebosanan, melainkan tanda kasih sayang. Sebagaimana Al-Qur’an berulang kali mengingatkan kita tentang tauhid, sabar, syukur, dan takwa, demikian pula nasihat dalam kehidupan kita sehari-hari.

Nasihat adalah cahaya penuntun, pengingat yang akan menyelamatkan, dan pengulangan adalah bukti cinta dan kasih sayang. Setiap zaman akan berganti, setiap generasi akan lahir, dan tidak semua orang memahami agama dengan baik. Maka selama itu pula, nasihat harus terus disampaikan, agar manusia selalu berada di jalan kebenaran.

Kasih Sayang Orang Tua Kepada Anak: Meneladani Kehidupan Luqmanul Hakim

Oleh: Chandra Aditya
(Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri)

‎Saudara ku Islam menjadikan kasih sayang orang tua sebagai fondasi utama dalam mendidik anak. Orang tua bukan hanya sebagai pemberi nafkah saja , tetapi juga menjadi seorang pembimbing, pengarah, dan teladan untuk anak. Anak adalah amanah yang dititipkan Allah, yang pastinya nanti akan dimintai pertanggung jawaban.

‎‎“Wahai orang orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. (Qs. At-Tahrim: 6)

‎‎Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa bentuk kasih sayang orang tua terbesar adalah menjaga anak-anaknya dari api neraka, yaitu dengan mendidik mereka untuk mengenal Allah, membimbing untuk beribadah dan memberikan keteladanan dengan akhlak yang mulia.

‎‎Banyak orang tua yang beranggapan bahwa kasih sayang mereka kepada anak  cukup hanya dengan memberikan makanan enak, pakaian bagus, serta fasilitas yang mereka inginkan. Padahal kasih sayang orang tua yang nyata kepada anak adalah dengan membimbing mereka agar bisa selamat dunia dan akhirat.


‎Wasiat Emas Lukmanul Hakim

‎‎Luqmanul Hakim, seorang hamba Allah yang memberikan keteladanan serta bimbingan kepada anaknya, diabadikan dalam Al-Qur’an untuk menjadi contoh  orang tua masa kini, agar bisa mendidik, membimbing, anak-anak mereka menjadi anak yang shalih dan shalihah, selamat dunia dan akhirat. Terdapat dua pendapat tentang Luqmanul Hakim, pendapat pertama mengatakan bahwa Luqmanul Hakim ini adalah seorang nabi, pendapat kedua mengatakan bahwa Luqmanul Hakim adalah seorang yang Shalih. Dan mayoritas para ulama bersepakat bahwa Luqmanul Hakim adalah orang yang Shalih, yang diberikan hikmah oleh Allah. 

‎Diabadikan dalam Al-Qur’an tepatnya dalam surat Luqman ayat 12-19. Hal ini menjadi bukti bahwa nasihat orang tua adalah bentuk  kasih sayang  yang teramat besar untuk anaknya.


‎* Menanamkan Tauhid

‎‎‎“Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya syirik itu benar-benar kedzaliman yang besar”. (Qs. Luqman: 13)

‎‎Ayat ini adalah bukti kasih sayang orang tua yang tidak ingin anaknya tersesat. Ia mengarahkan anaknya kepada tauhid agar kehidupannya penuh keberkahan. Tauhid adalah fondasi utama yang harus kita ajarkan kepada anak, tanpa tauhid segala prestasi, harta, dan kedudukan yang dicapai seorang anak tidak ada nilainya disisi Allah.


* Mengajarkan untuk berbakti dan bersyukur

‎‎ ” Dan Kami perintahkan manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Luqman: 14)

‎‎Ayat ke 14 ini merupakan firman Allah yang disisipkan ditengah tengah nasehat Luqman kepada anaknya, terlepas dari itu kewajiban untuk mengajarkan anak berbakti kepada orang tua adalah mutlak adanya, karena anak bisa hadir di dunia, juga adanya sebab orang tua. Oleh sebab itu berbakti kepada orang tua dan bersyukur adalah keseimbangan kasih sayang terhadap manusia dan Allah.


‎* Membiasakan beribadah

‎”Wahai anakku dirikanlah shalat” (Qs. Luqman: 17)

‎‎Di ayat ini Luqman menyampaikan”wahai anakku dirikanlah shalat” , tentunya ini merupakan  kasih sayang orang tua yang penuh kasih tidak hanya menyuruh anaknya untuk belajar, dan mencari dunia saja, tetapi juga membiasakan ibadah sejak kecil. Karena shalat adalah fondasi utama untuk membentuk karakter akhlak yang baik serta penjaga jiwa dari sifat tercela.

‎‎Setelah itu dikalimat yang berikutnya (Qs. Luqman: 17) Luqman mengajarkan akan pentingnya amar ma’ruf nahi munkar dan kesabaran, artinya seorang anak harus di didik untuk memiliki sikap tegas dalam kebenaran dan bersabar ketika ujian hidup itu menimpa.


‎* Mendidik akhlak dan kesopanan

‎”Janganlah engkau memalingkan wajah dari manusia dengan sombong dan jangan berjalan di bumi dengan angkuh.” (QS. Luqman: 18)

‎‎Di ayat ini Luqman menutup nasehat kepada anaknya untuk tidak berperilaku sombong dan suka merendahkan yang lain, tentunya ini adalah pelajaran penting orang tua untuk mengajarkan dan mendidik anak agar memiliki akhlak yang baik , mengajarkan kerendahan hati , sopan santun dan sederhana dalam pergaulan. 

‎Sejalan dengan itu memang benar kita hidup didunia ini tidak boleh sombong dan angkuh, serta suka merendahkan orang lain. Diayat yang lain Allah sudah menegaskan: 

‎”Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung”. ‎(Qs. Al-Isra’: 37) 


‎Kondisi Zaman Sekarang

‎‎Saudara ku hari ini kita hidup di zaman modern yang penuh dengan tantangan. Anak-anak lebih dekat dengan gadget mereka  dibanding dengan orang tuanya. Banyak orang tua yang sibuk mencari nafkah hingga lupa mendidik anak. Bahkan ada orang tua yang sudah merasa cukup hanya dengan memasukkan anak ke sekolah, tanpa mendampingi mereka dalam ibadah dan akhlak. Kita sudah diingatkan oleh Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, bahwa masing masing dari kita ini adalah pemimpin yang nantinya akan dimintai pertanggung jawaban terhadap yang dipimpinnya: 

‎‎”Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari Muslim)

‎Maka, orang tua adalah pemimpin dalam rumah tangga, dan anak-anak adalah amanah yang harus kita jaga dengan kasih sayang. 


Penutup

‎‎Saudara ku mari kita jadikan kisah Luqmanul Hakim ini sebagai keteladanan dalam mendidik anak-anak kita. Tunjukkan kasih sayang dengan mengajarkan tauhid, membimbing mereka dalam ibadah, menanamkan akhlak mulia, serta mendoakan mereka dalam setiap kesempatan.

‎‎Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang tua yang penuh kasih sayang, dan menjadikan anak-anak kita sebagai generasi yang shalih dan shalihah, agar menjadi penyejuk mata di dunia, serta pemberi syafa’at di akhirat kelak.

Jangan Padamkan Cahaya Ilmu dengan Kemaksiatan

Oleh : Chandra Aditya
(Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri)

‎Saudara ku, ada sebuah nasehat yang tertulis di dalam Kitab Ta’lim Muta’allim karya Imam Burhanuddin Az-Zarnuji, kitab yang masyhur di kalangan pesantren bahkan juga sering menghiasi kajian-kajian di majelis taklim pada umumnya. Begitu banyak nasehat dan motivasi yang tertulis di dalam kitab tersebut untuk mendorong semangat para pencari ilmu dalam proses belajar mereka.

‎‎Nasehat itu sejatinya tidak hanya diperuntukkan bagi para pelajar di bangku sekolah atau santri di pondok pesantren saja, tetapi berlaku untuk setiap muslim. Dalam Islam, kewajiban menuntut ilmu itu tidak dibatasi oleh usia, jabatan, ataupun status sosial. Selama Allah masih memberikan usia, kewajiban  menuntut ilmu tetap melekat pada diri setiap muslim, sebagaimana yang Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sabdakan:

‎‎“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.”
(HR. Ibnu Majah)

Hadits ini tentunya menjadi dasar bahwa ilmu adalah jalan bagi seorang hamba untuk mengenal Allah, memperbaiki ibadah, menata akhlak, serta meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Tanpa ilmu, ibadah akan kehilangan ruhnya, dan amal yang dikerjakan akan jauh dari tuntunan syariat.

‎Namun, dalam perjalanan menuntut ilmu, ada satu hal yang sangat penting untuk dijaga yaitu menjauhi kemaksiatan. Sebab, kemaksiatan dapat memadamkan cahaya ilmu dari hati seorang penuntut ilmu, inilah yang  ditekankan oleh para ulama terdahulu.

‎Nasehat Imam Waki’ kepada Imam Syafi’i

Kita tahu Imam Syafi’i adalah seorang yang luar biasa dalam keilmuan, bahkan di usia yang sangat masih muda beliau sudah mampu menghafal kitab Muwataa’ karya Imam Malik, dikenal dengan pribadi yang memiliki hafalan sangat kuat, namun di satu kesempatan Imam Syafi’i  pernah menyampaikan pengalamannya kepada gurunya, Imam Waki’, beliau mengadukan kesulitan dalam menghafal, lalu sang guru memberikan nasehat yang sangat berharga:

‎‎ شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي

‎فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي

‎وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ

‎وَنُورُ اللهِ لَا يُعْطَى لِعَاصِي

‎‎“Aku mengadukan kepada Waki’ tentang buruknya hafalan ku, lalu beliau menasihati ku agar meninggalkan maksiat. Dan beliau berkata: Ketahuilah, ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.”

Nasehat Imam Waki’ kepada Imam Syafi’i ini tentunya menjadi pelajaran yang mendalam bagi kita semua, bahwa kemaksiatan bukan hanya menjauhkan kita dari Allah, tetapi juga menghalangi masuknya cahaya ilmu ke dalam hati.

‎‎Oleh sebab itu, siapa saja yang ingin memperoleh keberkahan ilmu, hendaklah ia selalu mendekatkan dirinya dengan ketaatan, serta menghiasi dirinya dengan adab dan akhlak mulia. Sebab ilmu bukan sekedar catatan di buku atau hafalan di kepala saja, tetapi cahaya yang Allah tanamkan di dalam hati seorang hamba yang bersih dari dosa dan kemaksiatan.


Kesimpulan

‎‎Saudara ku, menuntut ilmu adalah kewajiban sepanjang usia, namun keberkahan ilmu hanya akan diraih jika kita menjaga hati dari noda kemaksiatan. Mari kita renungi kembali nasehat para ulama dan berupaya bersungguh-sungguh menjadikan ilmu sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jangan sampai cahaya ilmu yang begitu berharga itu padam karena ulah kita sendiri yang terjerumus dalam dosa.

Ketika Ibadah Tidak Membuat Kaya: Menjawab Keraguan Dengan Kacamata Islam

Oleh: Ust. Chandra Aditya
(Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri)
(Anggota PCM Mojoroto Kota Kediri)

‎Saudaraku…Didalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita sering mendengar keluhan dari sebagian orang yang tengah berada dalam kesulitan ekonomi atau keterbatasan hidup. Mereka berkata:
“Sudah capek-capek bekerja, kok tidak kaya-kaya juga? Sudah rajin sholat, ngaji, dan beribadah, tapi hidup tetap susah. Buat apa sholat? Buat apa ngaji kalau tidak bisa kaya?”

‎‎Tentunya kalimat semacam ini menggambarkan sebuah rasa kekecewaan dan kesalahpahaman sebagian manusia tentang tujuan hidup dan makna dari ibadah. Mereka mengukur nilai ibadah hanya dengan nilai duniawi, padahal Islam telah menjelaskan bahwa kekayaan bukanlah tujuan utama kehidupan, melainkan sarana untuk beribadah kepada Allah.

‎”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

‎‎Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama manusia diciptakan bukanlah untuk mengejar kekayaan, jabatan, atau kenikmatan dunia semata, melainkan untuk beribadah kepada Allah. Imam Al Ghazali  menjelaskan bahwa hakikat ibadah adalah mengarahkan seluruh hati kepada Allah dengan sepenuhnya, tunduk, dan ketaatan. Artinya, ibadah bukanlah transaksi untuk mendapatkan dunia, tetapi pertemuan seorang hamba dengan Rabb-nya.

‎‎Kekayaan hanyalah salah satu ujian yang Allah titipkan, ada orang yang Allah uji dengan kelapangan dan ada pula yang di uji dengan kesempitan, dan semua ini sama-sama ujian.

‎‎Kita bisa melihat dan membaca firman Allah pada ayat 155 surat Al-Baqarah:
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

‎‎Ayat ini menegaskan bahwa kemiskinan bukanlah tanda Allah tidak sayang, begitu pula kekayaan bukan berarti Allah ridha. Keduanya hanyalah bentuk ujian hidup. 

‎Oleh karena itu ibadah adalah solusi,  Bukan sebagai penghalang rezeki.

‎ ‎Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakan : 
‎”Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya jalan keluar (dari segala masalah) dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

‎‎Hadits ini menegaskan bahwa ibadah, taqwa, dan membangun kedekatan kepada Allah justru menjadi kunci utama datangnya rezeki. Rezeki bukan hanya berupa harta, tetapi juga kesehatan, ketenangan hati, keluarga yang baik, dan keberkahan dalam hidup.

‎‎Dan juga dikuatkan lagi didalam (Qs :  at-talaq ayat 2-3 ) bahwa ketaqwaan adalah kunci pembuka segala pintu rezeki

‎Agama Sebagai Solusi Kehidupan

‎Sudaraku…Islam bukan hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga memberikan solusi dalam menghadapi kesulitan hidup. Agama mengajarkan kesabaran, kerja keras, ikhtiar yang benar, serta tawakkal kepada Allah. Inilah fondasi utama yang membuat hidup menjadi tenang dan penuh keberkahan, meski tidak selalu bergelimang harta.

‎‎Allah berfirman:|
‎”Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
‎(QS. An-Nahl: 97)

‎‎Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan yang baik tidak selalu identik dengan kekayaan. Hidup yang baik adalah hidup yang penuh keberkahan, ketenangan hati, dan kebahagiaan yang Allah limpahkan.

‎‎Kesimpulan

‎‎Saudaraku… ketika muncul sebuah pertanyaan  “Buat apa sholat? Buat apa ngaji kalau tidak bisa kaya?”, jawaban Islam sudah sangat jelas , bahwa ibadah bukanlah jalan menuju kekayaan dunia, tetapi jalan menuju keberkahan hidup dan kebahagiaan akhirat. Kekayaan hanyalah ujian, sementara ibadah adalah kebutuhan jiwa.

‎ Agama adalah solusi dari setiap permasalahan, karena ia memberi arah, ketenangan, dan jawaban atas segala kebingungan hidup. Dengan ibadah, hati menjadi lapang, rezeki menjadi berkah, dan hidup memiliki tujuan yang sebenarnya.

Klinik Ar Fachrudin Lulus Rekredensial BPJS dengan Nilai Memuaskan!

Kediri, 2 September 2025 – Klinik PRJ Ar Fachrudin mencatatkan prestasi membanggakan setelah berhasil lulus proses rekredensial dari BPJS Kesehatan Kota Kediri dengan nilai memuaskan. Kunjungan tim verifikasi yang dilakukan pada Selasa, 2 September 2025, menjadi momentum penting dalam upaya klinik menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Proses rekredensial ini merupakan bagian dari evaluasi rutin yang dilakukan BPJS Kesehatan terhadap fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) untuk memastikan kesiapan dalam memberikan pelayanan sesuai standar nasional. Tim dari BPJS Kesehatan Kota Kediri melakukan peninjauan menyeluruh terhadap sarana dan prasarana, ketersediaan alat kesehatan, kelengkapan tenaga medis, hingga sistem administrasi pelayanan.

“Kami sangat mengapresiasi kunjungan dan evaluasi dari BPJS Kesehatan. Ini kesempatan bagi kami untuk mendapatkan masukan dan pendampingan guna terus memperbaiki kualitas layanan,” ujar wakil kepala klinik drg. Anis Khoirin Hayati, M.Kes.FISQua.

Hasil verifikasi yang memuaskan memastikan bahwa Klinik Ar Fachrudin tetap berhak menjadi mitra BPJS Kesehatan dalam melayani peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Artinya, masyarakat peserta BPJS dapat terus memperoleh pelayanan medis di klinik ini dengan nyaman dan terjamin.

Lebih dari sekadar memenuhi syarat teknis, klinik yang berlokasi di Kota Kediri ini menegaskan komitmennya untuk memberikan pelayanan yang ramah, profesional, aman, dan nyaman bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Kami tidak hanya ingin lulus verifikasi, tapi benar-benar menjadi klinik pilihan yang dipercaya oleh masyarakat,” tambah drg. Anis.

Dengan lulusnya proses rekredensial ini, Klinik Ar Fachrudin siap melanjutkan perannya sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan primer, khususnya bagi peserta BPJS Kesehatan di wilayah Kediri dan sekitarnya.

Selengkapnya simak video:

Klinik PRJ Ar Fachrudin
Jl. Perintis Kemerdekaan No.40, Ngronggo, Kota Kediri
Telp/WA: 0822.6449.8575

Jangan ragu datang ke tempat kami, kami beri pelayanan terbaik dan maksimal, untuk Konsultasi dan Pendaftaran Pasien klik:


HOTLINE KLINIK

(mLs)

Himbauan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Kediri Kepada Masyarakat

Kediri, 2 September 2025

Rangkuman

Menyikapi maraknya aksi demonstrasi yang berujung pada tindakan anarkis yang terjadi di akhir akhir ini, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Kediri memberikan himbauan kepada seluruh warga dan masyarakat khususnya Kota Kediri :

1.Tetap tenang dan menjaga keamanan serta kedamaian di Kota Kediri tercinta ini, jangan mudah terprovokasi oleh isu dan tindakan yang merugikan diri sendiri, masyarakat dan bangsa kita;

2.Sampaikan aspirasi dengan cara yang santun dan bermartabat sesuai dengan konstitusi kita, bukan dengan kekerasan yang menimbulkan kerusakan dan perpecahan;

3. Jadikan perbedaan pendapat menjadi sarana dialog, musyawarah dan mencari solusi terbaik sesuai dengan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin;

4. Mari memperbanyak do’a, istighfar dan amal sholeh agar bangsa kita selalu diberi keselamatan, ketenangan dan terhindar dari fitnah yang merusak persaudaraan kita.

Semoga Allaah shubhanahu wa ta’ala melindungi kita semua, menjaga kota Kediri, dan memberi petunjuk jalan yang lurus bagi para pemimpin dan seluruh rakyat Indonesia, Aamiin.