Ketika Wakaf Menjadi Jalan Keberkahan: Sebuah catatan perjalanan tentang wakaf, amanah dan cara Allah menghadirkan keberkahan

Ketika Wakaf Menjadi Jalan Keberkahan: Sebuah catatan perjalanan tentang wakaf, amanah dan cara Allah menghadirkan keberkahan

Oleh: Dani Setiawan

Kamis, 8 Oktober 2026, menjadi hari yang penuh makna bagi kami *Majelis Pendayagunaan Wakaf dan Kehartabendaan PDM Kota Kediri*.

Dipimpin langsung oleh *Wakil Ketua PDM Kota Kediri Bidang Pendayagunaan Wakaf dan Kehartabendaan, H. Djazuli*, bersama *Ketua Majelis Pendayagunaan Wakaf, H. Abu Bakar*, kami bersilaturahmi ke kediaman *H. Syamsudin Zuhri dan Hj. Nasrikah*, di Desa Watu Dandang, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk.

Kunjungan tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari penataan dan penindaklanjutan amanah wakaf. Di sana, kami mendapatkan sebuah pelajaran kehidupan yang sederhana, tetapi begitu dalam : *tentang harta, amanah, kemanfaatan, dan bagaimana Allah menghadirkan keberkahan melalui jalan yang tidak selalu dapat kita duga.*

Sekitar empat tahun yang lalu, H. Syamsudin Zuhri dan Hj. Nasrikah mewakafkan *sebidang tanah beserta bangunan di Desa Kedungsari, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri*, kepada *Persyarikatan Muhammadiyah*.

Pada saat itu, nilai tanah dan bangunan tersebut sekitar *Rp100 juta*.

Apa yang dilakukan beliau berdua bukan sekadar memindahkan kepemilikan sebuah aset. Di dalamnya ada harapan agar apa yang dimiliki dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi Persyarikatan dan umat.

Waktu pun berjalan.

Dalam perjalanan berikutnya, aset milik beliau di lokasi lain kemudian terkena pembebasan untuk pembangunan *Jalan Tol Kediri–Kertosono*. Dari proses pembebasan tersebut, beliau memperoleh nilai penggantian sekitar *Rp3,1 miliar*.

Jika dilihat dari angka, tentu perbedaannya sangat besar.

Namun, kisah ini tidak seharusnya berhenti pada perbandingan antara *Rp100 juta dan Rp3,1 miliar*.

Sebab wakaf bukanlah sebuah transaksi : memberikan sesuatu lalu menunggu pengembalian yang lebih besar.

*Wakaf adalah ibadah.*

Ia lahir dari kesadaran bahwa harta yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan Allah, dan sebagian darinya dapat kita abadikan manfaatnya untuk kepentingan umat.

Karena itu, apa yang terjadi pada keluarga H. Syamsudin Zuhri dan Hj. Nasrikah lebih tepat kita lihat sebagai sebuah *pengingat tentang luasnya cara Allah mengatur kehidupan manusia.*

Allah berfirman :

*“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.”*

*(QS. Saba’: 39)*

Ayat tersebut mengajarkan kepada kita bahwa kebaikan yang dilakukan seorang hamba tidak akan sia-sia di sisi Allah.

Penggantian dari Allah tidak selalu hadir dalam bentuk uang, tidak selalu datang dalam waktu yang kita harapkan, dan tidak selalu hadir dengan cara yang dapat kita pahami sejak awal.

Ia bisa hadir sebagai rezeki, kesehatan, ketenteraman, keluarga yang harmonis, kemudahan dalam kehidupan, atau kebermanfaatan yang terus tumbuh dari sesuatu yang pernah kita berikan.

Dan dalam kisah ini, kita menyaksikan salah satu bentuk keberkahan itu melalui perjalanan kehidupan yang begitu nyata.

 *WAKAF DAN MAKNA YANG LEBIH PANJANG*

Wakaf memiliki dimensi yang berbeda dari kepemilikan biasa.

Ketika sebuah tanah atau bangunan diwakafkan, yang diharapkan bukan lagi sekadar nilai ekonominya, tetapi *nilai manfaatnya*.

Tanah dapat menjadi tempat berdirinya sebuah lembaga.

Bangunan dapat menjadi tempat orang belajar, beribadah, berkumpul, dan melakukan berbagai kegiatan kemasyarakatan.

Harta dapat berubah menjadi sarana dakwah.

Dan sesuatu yang semula hanya bernilai secara materi dapat memiliki nilai yang jauh lebih panjang ketika manfaatnya terus dirasakan oleh banyak orang.

Di situlah indahnya wakaf.

*Nilainya tidak berhenti ketika harta berpindah tangan. Nilainya justru tumbuh ketika manfaatnya terus berjalan.*

 *SEBUAH PERTEMUAN YANG MENGHANGATKAN*

Ada suasana yang begitu hangat ketika kami bertemu H. Syamsudin Zuhri dan Hj. Nasrikah.

Senyum kebahagiaan tampak di wajah keduanya.

Dengan ramah, beliau berkenan mendampingi kami secara langsung dan menyerahkan *kunci rumah serta tanah yang telah diwakafkan*.

Momen itu terasa sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam.

Kami tidak hanya melihat sebuah aset.

Kami melihat sebuah perjalanan.

Ada harta yang pernah dimiliki.

Ada keputusan untuk menjadikannya wakaf.

Ada amanah yang kemudian harus dijaga.

Dan ada pertemuan hari ini yang mempertemukan kembali manusia dengan bagian dari perjalanan kebaikannya.

Barangkali memang demikian cara kehidupan bekerja.

*”Apa yang kita tanam hari ini, belum tentu kita lihat hasilnya pada hari yang sama”.*

Tetapi waktu, keadaan, dan kehendak Allah dapat mempertemukan kita dengan makna dari apa yang pernah kita lakukan.

 *MENJAGA AMANAH WAKAF*

Perjalanan ini sekaligus mengingatkan kami bahwa tugas *Majelis Pendayagunaan Wakaf dan Kehartabendaan* bukan semata-mata berkaitan dengan sertifikat, tanah, bangunan, atau kelengkapan administrasi.

Di balik setiap aset wakaf terdapat *amanah seorang wakif*.

Ada kepercayaan yang harus dijaga.

Ada hak umat yang harus dilindungi.

Dan ada harapan agar aset tersebut memberikan manfaat yang semakin luas.

Karena itu, pengelolaan wakaf membutuhkan ketertiban, kehati-hatian, profesionalitas, dan tanggung jawab.

Wakaf yang tertata akan lebih mudah dijaga.

Wakaf yang dikelola dengan baik akan lebih besar manfaatnya.

Dan wakaf yang produktif dapat menjadi salah satu kekuatan bagi kemandirian Persyarikatan dan kemaslahatan umat.

 *BELAJAR DARI SEBUAH PERJALANAN*

Kisah H. Syamsudin Zuhri dan Hj. Nasrikah memberikan renungan sederhana bagi kita.

Dalam kehidupan, kita sering kali lebih mudah menghitung apa yang kita miliki daripada menghitung apa yang dapat kita manfaatkan untuk orang lain.

Padahal, pada akhirnya, harta yang kita kumpulkan akan kita tinggalkan.

Yang memiliki kesempatan untuk terus hidup setelah kita tiada adalah *manfaat yang pernah kita hadirkan.*

Karena itu, mungkin pertanyaan yang layak kita renungkan bukan hanya :

“Berapa banyak harta yang dapat kita miliki?”

Tetapi juga :

“Berapa banyak manfaat yang dapat kita tinggalkan?”

Wakaf menjadi salah satu jawabannya.

Ia adalah cara untuk menjadikan sebagian harta kita memiliki perjalanan yang lebih panjang daripada usia kita sendiri.

 *SEBUAH CATATAN UNTUK KITA*

Kunjungan hari ini meninggalkan satu kesan yang sederhana :

*”Harta adalah titipan, sedangkan manfaat adalah jejak”.*

Kita tidak pernah tahu bagaimana Allah akan mengatur perjalanan dari setiap kebaikan yang kita lakukan.

Yang dapat kita lakukan adalah menjaga niat, menunaikan amanah, dan berusaha agar apa yang kita miliki dapat memberikan manfaat.

Semoga Allah menerima wakaf H. Syamsudin Zuhri dan Hj. Nasrikah sebagai *amal jariyah*, memberikan keberkahan kepada keluarga, serta menjadikan aset yang telah diwakafkan sebagai bagian dari perjuangan panjang Persyarikatan Muhammadiyah dalam memberikan kemanfaatan bagi umat.

Semoga kisah ini juga menjadi pengingat bagi kita semua bahwa *wakaf bukan tentang kehilangan harta, melainkan tentang memperpanjang manfaatnya.*

Sebab boleh jadi, ketika usia kita berhenti, *manfaat dari apa yang pernah kita wakafkan masih terus berjalan.*

Dan di situlah sebuah harta menemukan makna yang lebih panjang.

*Fastabiqul khairat.*

Amanah Wakaf: Perjalanan Panjang Menjaga Titipan Umat

“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Wakaf merupakan salah satu bentuk sedekah jariyah yang memiliki keutamaan luar biasa dalam Islam. Selama harta wakaf terus memberikan manfaat bagi umat, selama itu pula pahala akan terus mengalir kepada wakif meskipun ia telah meninggalkan dunia. Sebidang tanah yang menjadi masjid, sekolah, rumah sakit, panti asuhan, pesantren, atau lahan produktif bukan hanya menjadi bukti kepedulian seorang hamba kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi warisan amal yang akan terus hidup lintas generasi.

Namun, di balik berdirinya sebuah aset wakaf yang kokoh dan bermanfaat, terdapat perjalanan panjang yang sering kali tidak diketahui oleh masyarakat. Banyak orang menganggap bahwa wakaf selesai ketika seorang wakif mengucapkan ikrar wakaf. Padahal, ikrar wakaf hanyalah awal dari sebuah amanah besar yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Setelah itu masih ada rangkaian proses hukum, administrasi, pengamanan aset, pencatatan, hingga pengelolaan yang membutuhkan waktu panjang, kesabaran, ketelitian, dan kerja sama dari banyak pihak.

Perjalanan tersebut diawali dari niat tulus seorang wakif yang ingin mewakafkan sebagian hartanya di jalan Allah. Niat mulia ini kemudian dikonsultasikan kepada nazhir agar dipastikan bahwa objek wakaf memenuhi ketentuan syariat maupun peraturan perundang-undangan. Tidak jarang, pada tahap awal ini diperlukan komunikasi yang intensif dengan keluarga dan pihak-pihak terkait agar seluruh proses berjalan dengan baik serta tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.

Tahap berikutnya adalah pelaksanaan ikrar wakaf di hadapan Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW). Prosesi ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan momentum sakral penyerahan amanah dari wakif kepada nazhir untuk dikelola bagi kemaslahatan umat. Di sinilah niat baik seorang wakif dinyatakan secara resmi sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Namun setelah ikrar wakaf selesai, pekerjaan yang sesungguhnya justru dimulai. Berbagai dokumen harus dipersiapkan, diverifikasi, dan diajukan kepada instansi terkait. Mulai dari penerbitan Akta Ikrar Wakaf, pemeriksaan legalitas tanah, pengukuran bidang tanah apabila diperlukan, hingga proses penerbitan sertifikat tanah wakaf. Seluruh tahapan ini sering kali tidak dapat diselesaikan dalam hitungan hari atau minggu, melainkan membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Berbagai kendala dapat muncul, seperti dokumen kepemilikan yang belum lengkap, batas tanah yang belum jelas, data administrasi yang berbeda, maupun proses koordinasi dengan berbagai instansi yang memerlukan ketelitian dan kesabaran.

Salah satu tahapan yang paling menantang adalah proses peralihan hak atau balik nama dari wakif kepada Persyarikatan Muhammadiyah sebagai badan hukum nazhir penerima amanah wakaf. Proses ini akan jauh lebih mudah apabila diselesaikan ketika wakif masih hidup. Sayangnya, dalam kenyataan di lapangan, tidak sedikit aset wakaf yang baru diproses secara administratif setelah wakif meninggal dunia. Kondisi inilah yang sering menyebabkan proses penyelesaian menjadi jauh lebih panjang dan kompleks.

Ketika wakif telah wafat, seluruh proses administrasi harus melibatkan para ahli waris. Berbagai dokumen harus dilengkapi, surat-surat harus ditandatangani, dan persetujuan dari para ahli waris sering kali menjadi bagian penting dalam penyelesaian administrasi. Persoalan menjadi semakin rumit ketika ahli waris sudah tinggal di berbagai daerah, bahkan berada di kota, provinsi, atau negara yang berbeda. Mengumpulkan seluruh ahli waris dalam satu waktu untuk memenuhi persyaratan administrasi bukanlah pekerjaan yang mudah. Kesibukan, jarak, dan kondisi masing-masing sering menyebabkan proses tersebut berjalan sangat lama.

Tantangan yang lebih berat muncul ketika terdapat perbedaan pandangan di antara ahli waris. Tidak jarang ada ahli waris yang belum memahami hakikat wakaf atau belum mengetahui sepenuhnya keinginan almarhum semasa hidup. Ada pula yang tidak setuju apabila tanah tersebut diwakafkan kepada Persyarikatan Muhammadiyah karena berbagai alasan, baik faktor emosional, kepentingan keluarga, maupun kurangnya pemahaman mengenai hukum wakaf. Dalam kondisi seperti ini, pengurus Persyarikatan tidak dapat memaksakan kehendak. Yang dilakukan adalah mengedepankan musyawarah, pendekatan kekeluargaan, memberikan edukasi mengenai hukum wakaf, menunjukkan bukti-bukti administrasi yang ada, serta menghormati seluruh proses hukum yang berlaku. Tidak sedikit penyelesaian perkara seperti ini membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga akhirnya seluruh ahli waris memperoleh pemahaman yang sama dan amanah wakif dapat diwujudkan sebagaimana mestinya.

Selama proses tersebut berlangsung, para pengelola wakaf harus terus melakukan koordinasi dengan keluarga wakif, pemerintah desa atau kelurahan, Kantor Urusan Agama, Badan Pertanahan Nasional, notaris apabila diperlukan, hingga berbagai instansi lain yang terkait. Seluruh tahapan tersebut membutuhkan kesabaran, ketelitian, biaya, tenaga, dan komitmen yang tinggi. Oleh karena itu, setiap sertifikat wakaf yang akhirnya terbit sesungguhnya merupakan hasil dari perjuangan panjang yang mungkin tidak pernah terlihat oleh masyarakat.

Setelah proses balik nama selesai dan status hukum aset telah resmi menjadi milik Persyarikatan Muhammadiyah sebagai badan hukum, amanah belum berakhir. Seluruh aset wakaf harus dicatat secara tertib dalam administrasi Persyarikatan. Pendataan dilakukan melalui inventarisasi aset, penyimpanan dokumen yang aman, hingga penginputan ke dalam Sistem Informasi Manajemen Aset Muhammadiyah (SIMAM). Pencatatan yang baik merupakan bentuk pertanggungjawaban sekaligus perlindungan terhadap aset agar tetap terjaga untuk generasi mendatang.

Namun tantangan belum berhenti pada aspek legalitas dan administrasi. Tidak sedikit wakif maupun keluarga wakif yang berharap agar tanah yang telah diwakafkan segera dimanfaatkan sesuai dengan peruntukan yang dicita-citakan, seperti dibangun masjid, sekolah, pondok pesantren, rumah sakit, panti asuhan, pusat dakwah, atau fasilitas sosial lainnya. Harapan tersebut tentu sangat wajar, karena setiap wakif ingin menyaksikan sendiri bahwa amanah yang telah diberikan benar-benar menghadirkan manfaat bagi umat.

Dalam praktiknya, mewujudkan harapan tersebut bukanlah perkara mudah. Kemampuan setiap daerah dalam mengelola dan mengembangkan aset wakaf sangat berbeda. Ada daerah yang memiliki sumber daya manusia, dukungan masyarakat, kemampuan pendanaan, dan potensi ekonomi yang memadai sehingga dapat segera merealisasikan pembangunan. Namun ada pula daerah yang harus berjuang lebih lama karena keterbatasan sumber daya, belum tersedianya anggaran, perlunya penyusunan perencanaan yang matang, proses perizinan, hingga mencari mitra yang mampu mendukung pengembangan aset tersebut.

Tidak jarang kondisi ini menimbulkan tuntutan dari wakif atau keluarga wakif agar tanah yang telah diwakafkan segera diwujudkan sesuai dengan niat awal. Pengurus Persyarikatan sering berada pada posisi yang tidak mudah. Di satu sisi mereka memahami harapan besar wakif dan keluarganya, namun di sisi lain mereka harus mempertimbangkan kesiapan organisasi agar pembangunan tidak berhenti di tengah jalan atau justru menjadi beban di kemudian hari. Oleh karena itu, Persyarikatan harus memastikan bahwa setiap aset wakaf tidak hanya berhasil dibangun, tetapi juga mampu dikelola secara profesional, berkelanjutan, dan benar-benar memberikan manfaat sesuai dengan tujuan wakaf.

Karena itu, keberhasilan pengelolaan wakaf tidak semata-mata diukur dari seberapa cepat bangunan berdiri di atas tanah wakaf, tetapi dari sejauh mana aset tersebut mampu memberikan manfaat yang berkesinambungan bagi umat. Terkadang, menjaga aset agar tetap aman, terlindungi secara hukum, dan menunggu waktu yang tepat untuk dikembangkan merupakan bagian dari ikhtiar menjaga amanah itu sendiri.

Selanjutnya, aset wakaf yang telah siap dikembangkan harus benar-benar dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemaslahatan umat. Tanah wakaf tidak boleh menjadi aset yang terbengkalai, tetapi harus menjadi pusat dakwah, pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, maupun pelayanan umat. Di sinilah hakikat wakaf yang sesungguhnya, yaitu menghadirkan manfaat yang terus mengalir tanpa mengenal batas waktu.

Seluruh rangkaian proses tersebut menunjukkan bahwa mengelola wakaf bukanlah pekerjaan yang sederhana. Dibutuhkan orang-orang yang ikhlas, amanah, sabar, teliti, memahami aspek syariah sekaligus hukum, serta memiliki komitmen untuk menjaga titipan umat. Banyak pengurus yang harus meluangkan waktu di sela-sela aktivitas pribadi dan pekerjaannya hanya untuk mengurus berkas, menghadiri rapat, mendampingi proses pengukuran tanah, menyelesaikan persoalan administrasi, melakukan pendekatan kepada keluarga wakif, hingga menyusun strategi agar aset tersebut dapat benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sudah sepatutnya kita memberikan penghormatan kepada para wakif yang dengan tulus menyerahkan sebagian hartanya di jalan Allah. Demikian pula kepada para nazhir, Majelis Pendayagunaan Wakaf dan Kehartabendaan, pengurus Persyarikatan, serta seluruh pihak yang tanpa lelah mengawal setiap proses tersebut. Mereka mungkin tidak banyak dikenal, tetapi kerja keras mereka menjadi sebab terjaganya aset-aset umat yang akan terus memberikan manfaat hingga puluhan bahkan ratusan tahun ke depan.

Pengalaman ini juga menjadi pelajaran penting bagi kita semua. Apabila seseorang telah berniat mewakafkan hartanya, maka sebaiknya seluruh proses administrasi dan legalisasi segera diselesaikan ketika wakif masih hidup. Dengan demikian, niat mulia tersebut dapat terlindungi secara hukum, menghindari potensi sengketa di antara ahli waris, serta mempercepat pemanfaatan aset untuk kepentingan umat.

Pada akhirnya, menjaga wakaf bukan sekadar mengurus sertifikat atau menyelesaikan administrasi. Menjaga wakaf berarti menjaga kepercayaan seorang wakif, menghormati niat ibadahnya, melindungi aset umat, serta memastikan bahwa setiap jengkal tanah wakaf benar-benar menjadi sumber manfaat yang terus mengalir bagi dakwah, pendidikan, kesehatan, sosial, dan kesejahteraan masyarakat.

Sebagai penutup, marilah kita senantiasa mendoakan para wakif yang telah menginfakkan sebagian hartanya sebagai investasi akhirat. Semoga Allah SWT menerima amal jariyah mereka, melipatgandakan pahalanya hingga hari kiamat, serta menjadikan setiap harta yang diwakafkan sebagai pemberat timbangan amal kebaikan mereka.

Semoga Allah SWT juga memberikan kekuatan, kesabaran, keikhlasan, kesehatan, dan kemudahan kepada seluruh nazhir, Majelis Pendayagunaan Wakaf dan Kehartabendaan, pengurus Persyarikatan, serta setiap insan yang mengabdikan diri dalam menjaga, mengamankan, melegalkan, mendata, mengembangkan, dan memanfaatkan aset-aset Persyarikatan Muhammadiyah. Perjuangan mereka memang tidak selalu terlihat, bahkan sering kali dipenuhi tantangan, mulai dari proses administrasi yang panjang, persoalan hukum yang rumit, dinamika di tengah keluarga wakif, hingga keterbatasan kemampuan dalam mewujudkan pemanfaatan aset sesuai harapan. Namun di balik semua itu, mereka sedang menjaga amanah umat yang akan terus menjadi sumber manfaat bagi generasi yang akan datang. Selamat berjuang para Pejuang Wakaf dan para Penjaga Aset Persyarikatan. Teruslah mengabdi dengan penuh keikhlasan, bekerja dengan amanah, menjaga setiap jengkal aset Persyarikatan Muhammadiyah dengan profesionalisme, serta memastikan seluruh aset wakaf tetap lestari dan bermanfaat sepanjang zaman. Semoga setiap langkah, setiap tetes keringat, setiap waktu yang dicurahkan, dan setiap kesabaran yang dijalani menjadi amal saleh yang dicatat oleh Allah SWT sebagai amal jariyah yang tidak pernah terputus. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi, menguatkan, dan memberkahi setiap ikhtiar kita dalam menjaga amanah wakaf demi kemajuan dakwah, kemaslahatan umat, dan kejayaan Persyarikatan Muhammadiyah. Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamiin.(Dans050726)