Membangun Budaya Kritis ala Ibrahim di Era Artificial Intelligence

Membangun Budaya Kritis ala Ibrahim di Era Artificial Intelligence

Di era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), manusia hidup dalam arus informasi yang sangat cepat. Dalam hitungan detik, AI mampu menghasilkan tulisan, gambar, video, suara, bahkan memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan. Teknologi ini menawarkan banyak kemudahan, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan besar: apakah manusia masih mau berpikir kritis?

‎‎Kemudahan mendapatkan jawaban jangan sampai membuat manusia kehilangan kemampuan untuk bertanya, memeriksa, menimbang, dan mencari kebenaran. Dalam konteks inilah kisah Nabi Ibrahim dalam Al-Qur’an menjadi sangat relevan. Ibrahim adalah sosok yang menunjukkan keberanian intelektual: ia tidak menerima keyakinan begitu saja tanpa proses pencarian dan pengujian.

‎‎Salah satu gambaran penting terdapat dalam QS. Al-An‘am ayat 74–79. Ibrahim mempertanyakan keyakinan ayahnya dan kaumnya yang menjadikan berhala sebagai sesembahan. Ia kemudian mengajak mereka menggunakan akal untuk melihat kelemahan objek-objek yang mereka sembah.

‎‎Allah berfirman: 

‎‎“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar, ‘Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.’” (QS. Al-An‘am: 74).

‎‎Ayat ini memperlihatkan keberanian Ibrahim untuk mempertanyakan sesuatu yang telah dianggap benar oleh lingkungan sosialnya. Ia tidak tunduk kepada tradisi hanya karena tradisi tersebut telah berlangsung lama.

‎‎*Ibrahim dan Budaya Bertanya*

‎‎Sikap kritis Ibrahim bukan berarti gemar membantah atau menolak semua hal. Kekritisan Ibrahim berangkat dari pencarian kebenaran.

‎‎Dalam ayat 76–79, Al-Qur’an menggambarkan bagaimana Ibrahim memperhatikan fenomena langit. Ia melihat bintang, bulan, dan matahari. Ketika bintang terbenam, ia berkata bahwa ia tidak menyukai sesuatu yang tenggelam. Demikian pula ketika melihat bulan dan matahari.

‎‎Pada akhirnya Ibrahim menyatakan:

‎‎“Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dia yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh ketundukan, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Al-An‘am: 79).

‎‎Rangkaian ayat tersebut memberikan gambaran penting bahwa iman tidak identik dengan sikap anti-kritis. Sebaliknya, Al-Qur’an menunjukkan proses berpikir, mengamati, mempertanyakan, dan menemukan kesimpulan sebagai bagian dari perjalanan menuju kebenaran.

‎‎Dalam konteks pendidikan, keluarga, sekolah, kampus, dan masyarakat, budaya bertanya perlu mendapatkan tempat. Anak tidak cukup hanya diajarkan “apa jawabannya”, tetapi juga perlu dibimbing memahami mengapa jawabannya demikian.

‎‎*Era AI Membutuhkan Manusia yang Kritis*

‎‎Kehadiran AI membuat kebutuhan terhadap budaya kritis semakin mendesak. AI dapat memberikan jawaban yang tampak meyakinkan, tetapi jawaban yang meyakinkan belum tentu benar. AI dapat menghasilkan informasi secara cepat, tetapi kecepatan bukan ukuran kebenaran.

‎‎Karena itu, pengguna AI harus memiliki kebiasaan tabayyun, sebagaimana pesan Allah:

‎‎“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah…” (QS. Al-Hujurat: 6).

‎‎Prinsip tabayyun sangat relevan dalam ekosistem digital. Jangan langsung mempercayai berita, gambar, video, atau jawaban AI hanya karena tampilannya terlihat profesional. Setiap informasi perlu diperiksa sumber, konteks, bukti, dan kredibilitasnya.

‎‎Budaya kritis ala Ibrahim berarti membangun kebiasaan untuk bertanya: Dari mana informasi ini berasal? Apa buktinya? Apakah sumbernya dapat dipercaya? Apakah ada sudut pandang lain? Apakah kesimpulannya sesuai dengan fakta dan prinsip kebenaran?

‎‎*Al-Qur’an Mendorong Penggunaan Akal*

‎‎Budaya kritis juga sangat kuat dalam Al-Qur’an. Allah berulang kali mengajak manusia menggunakan akal dan melakukan perenungan.

‎‎Misalnya:

‎‎أَفَلَا تَعْقِلُونَ

‎‎“Tidakkah kamu menggunakan akalmu?” (QS. Al-Baqarah: 44).

‎‎أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ

‎‎“Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an?” (QS. Muhammad: 24).

‎‎Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak menghendaki manusia menjadi penerima informasi yang pasif. Seorang Muslim diperintahkan untuk berpikir, merenung, dan menggunakan kemampuan intelektualnya.

‎‎Bahkan Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat penting dalam menerima informasi:

‎‎الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ

‎‎“Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik di antaranya.” (QS. Az-Zumar: 18).

‎‎Ayat ini menggambarkan pribadi yang terbuka terhadap informasi, tetapi tidak menelan semuanya secara mentah. Ia mendengar, mempertimbangkan, kemudian memilih yang terbaik.

‎‎*Jangan Menjadikan AI sebagai “Berhala Baru”*

‎‎Di sinilah kisah Ibrahim menjadi semakin menarik untuk direnungkan. Berhala pada masa Ibrahim adalah sesuatu yang diagungkan dan dijadikan tempat bergantung, padahal tidak memiliki kekuasaan sebagaimana yang diyakini manusia.

‎‎Di era modern, tentu AI bukan berhala dalam pengertian teologis. Namun secara metaforis, kita perlu berhati-hati agar teknologi tidak berubah menjadi otoritas yang diterima tanpa kritik.

‎‎Ketika seseorang berkata, “AI mengatakan demikian, berarti pasti benar,” sesungguhnya ia sedang kehilangan posisi kritisnya sebagai manusia. AI seharusnya menjadi alat bantu berpikir, bukan pengganti akal dan tanggung jawab manusia.

‎‎Dalam bidang pendidikan, misalnya, AI dapat membantu mencari ide, menjelaskan konsep, menerjemahkan bahasa, atau merangkum bahan bacaan. Namun peserta didik tetap harus membaca sumber asli, melakukan verifikasi, berdiskusi, dan membangun kesimpulan sendiri.

‎‎*Dari Ibrahim Menuju Budaya Ilmu*

‎‎Kekritisan Ibrahim juga dapat dihubungkan dengan doa yang sangat terkenal:

‎‎رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

‎‎“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku hikmah dan golongkanlah aku bersama orang-orang saleh.” (QS. Asy-Syu‘ara: 83).

‎‎Ibrahim tidak hanya mencari informasi, tetapi memohon hikmah. Inilah yang membedakan kecerdasan dengan kebijaksanaan. AI mungkin mampu memproses data dalam jumlah sangat besar, tetapi manusia tetap membutuhkan hikmah untuk menentukan apa yang benar, baik, dan bermanfaat.

‎‎Maka, membangun budaya kritis ala Ibrahim di era AI bukan berarti menjadi manusia yang selalu curiga atau selalu menolak teknologi. Justru sebaliknya, kita perlu menjadi generasi yang melek teknologi sekaligus kuat secara spiritual dan intelektual.

‎‎Gunakan AI, tetapi jangan kehilangan akal. Terima informasi, tetapi lakukan tabayyun. Dengarkan berbagai pendapat, tetapi pilih yang paling benar. Manfaatkan teknologi, tetapi jangan menjadikannya sebagai pengganti tanggung jawab manusia.

‎‎Pelajaran terbesar dari Ibrahim adalah keberanian untuk mencari kebenaran. Ia berani bertanya ketika masyarakat hanya mengikuti tradisi. Ia mengamati ketika orang lain menerima begitu saja. Ia menggunakan akal ketika orang lain hanya mengikuti kebiasaan.

‎‎Di era AI, kita membutuhkan generasi seperti Ibrahim: generasi yang berani bertanya, tekun mencari kebenaran, cerdas memanfaatkan teknologi, dan tetap menjadikan tauhid sebagai kompas kehidupan.

‎‎Sebab tantangan terbesar masa depan bukan sekadar apakah manusia mampu menciptakan AI yang semakin cerdas, tetapi apakah manusia tetap menjadi makhluk yang berpikir kritis, beriman, dan bijaksana ketika hidup bersama teknologi yang semakin cerdas.

‎‎Oleh: Chandra Aditya 
Sekretaris PDPM Kota Kediri 

Agenda Bimbingan Teknis SatuMu: Persekutuan Pendaftaran E‑KTAM, Pengelolaan DOM & Aktivasi Rekening Organisasi

Ahad, 30 Agustus 2026 | Gedung Dakwah Muhammadiyah Kota Kediri

Kota Kediri — Dalam upaya memperkuat tata kelola organisasi dan mempermudah layanan administratif bagi seluruh jenjang kepengurusan, Muhammadiyah Kota Kediri menjadi tuan rumah Bimbingan Teknis (Bimtek) SatuMu pada Ahad, 30 Agustus 2026. Kegiatan yang diikuti oleh pimpinan Pimpinan Daerah, Cabang, dan Ranting Muhammadiyah, serta agen dan verifikator dari tingkat ranting hingga daerah ini menghadirkan fokus utama pada Persekutuan Pendaftaran E‑KTAM, Pengelolaan Direktori Organisasi Muhammadiyah (DOM), dan Aktivasi Rekening Organisasi.

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Kediri, KH. Ahmad Khoirudin, M.Pd.I. Dalam sambutannya, KH. Ahmad menegaskan pentingnya modernisasi administrasi organisasi untuk menjamin transparansi, akuntabilitas, dan kelancaran pelayanan kepada jamaah serta masyarakat luas. “Digitalisasi bukan sekadar mengubah proses, tetapi memperkuat komitmen kita terhadap tata kelola yang profesional dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Fokus Bimtek
E‑KTAM (Elektronik Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah): Sesi ini membahas tata cara pendaftaran anggota secara elektronik, verifikasi data, serta manfaat penggunaan E‑KTAM untuk mempermudah identifikasi dan layanan anggota di semua jenjang.

Persekutuan Pendaftaran: Diskusi dan praktik terkait mekanisme persekutuan pendaftaran antar ranting, cabang, dan daerah untuk memastikan data anggota terintegrasi dan sinkron antar level organisasi.

Pengelolaan DOM (Direktori Organisasi Muhammadiyah): Pelatihan penggunaan DOM sebagai basis data terpusat organisasi—cara memasukkan, memperbarui, dan memanfaatkan data organisasi untuk komunikasi, perencanaan program, serta pelaporan.

Aktivasi Rekening Organisasi: Panduan praktis aktivasi dan pengelolaan rekening organisasi, termasuk langkah-langkah administratif, keamanan transaksi, serta mekanisme pelaporan keuangan yang sesuai aturan Muhammadiyah.

Peserta dan Peranannya
Bimtek ini mengundang pimpinan dari tingkat daerah, cabang, dan ranting, serta agen dan verifikator yang bertugas memastikan kualitas data di lapangan. Kehadiran lintas jenjang tersebut dimaksudkan untuk menjamin transfer pengetahuan yang utuh: kebijakan dan prosedur disampaikan di tingkat pusat/daerah, sementara praktik dan verifikasi diterapkan langsung di tingkat ranting.

Pelaksanaan dan Metodologi
Acara berlangsung seharian dengan kombinasi sesi presentasi, demo langsung sistem, studi kasus, dan praktik di computer corner. Tim SatuMu Wilayah Jawa Timur mendampingi seluruh rangkaian kegiatan, memberikan asistensi teknis, serta membuka sesi tanya jawab intensif agar setiap peserta pulang dengan kompetensi operasional yang jelas.

Dampak yang Diharapkan
Dengan terimplementasinya E‑KTAM, DOM, dan aktivasi rekening yang benar, Muhammadiyah berharap:

Data anggota dan struktur organisasi lebih rapi, terintegrasi, dan mudah diakses untuk keperluan program.

Proses administrasi lebih cepat dan transparan, menurunkan risiko kesalahan dan duplikasi data.

Keuangan organisasi dikelola lebih aman dan akuntabel, mendukung pelaporan dan audit internal.

Agen dan verifikator ranting memiliki kapasitas teknis untuk menjaga kualitas data di level akar rumput.

Bimbingan Teknis SatuMu di Kota Kediri bukan sekadar pelatihan teknis; ia adalah langkah strategis memperkuat fondasi administrasi Muhammadiyah di era digital. Dengan komitmen pimpinan, dukungan tim wilayah, dan kesiapan agen serta verifikator di lapangan, transformasi ini diharapkan meningkatkan efektivitas pelayanan organisasi kepada umat dan masyarakat.

Untuk informasi lebih lanjut dan materi pelatihan, peserta dapat menghubungi Tim SatuMu Wilayah Jawa Timur atau Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Kediri.(Dana,260831)