Kasih Sayang Orang Tua Kepada Anak: Meneladani Kehidupan Luqmanul Hakim

Kasih Sayang Orang Tua Kepada Anak: Meneladani Kehidupan Luqmanul Hakim

Oleh: Chandra Aditya
(Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri)

‎Saudara ku Islam menjadikan kasih sayang orang tua sebagai fondasi utama dalam mendidik anak. Orang tua bukan hanya sebagai pemberi nafkah saja , tetapi juga menjadi seorang pembimbing, pengarah, dan teladan untuk anak. Anak adalah amanah yang dititipkan Allah, yang pastinya nanti akan dimintai pertanggung jawaban.

‎‎“Wahai orang orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. (Qs. At-Tahrim: 6)

‎‎Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa bentuk kasih sayang orang tua terbesar adalah menjaga anak-anaknya dari api neraka, yaitu dengan mendidik mereka untuk mengenal Allah, membimbing untuk beribadah dan memberikan keteladanan dengan akhlak yang mulia.

‎‎Banyak orang tua yang beranggapan bahwa kasih sayang mereka kepada anak  cukup hanya dengan memberikan makanan enak, pakaian bagus, serta fasilitas yang mereka inginkan. Padahal kasih sayang orang tua yang nyata kepada anak adalah dengan membimbing mereka agar bisa selamat dunia dan akhirat.


‎Wasiat Emas Lukmanul Hakim

‎‎Luqmanul Hakim, seorang hamba Allah yang memberikan keteladanan serta bimbingan kepada anaknya, diabadikan dalam Al-Qur’an untuk menjadi contoh  orang tua masa kini, agar bisa mendidik, membimbing, anak-anak mereka menjadi anak yang shalih dan shalihah, selamat dunia dan akhirat. Terdapat dua pendapat tentang Luqmanul Hakim, pendapat pertama mengatakan bahwa Luqmanul Hakim ini adalah seorang nabi, pendapat kedua mengatakan bahwa Luqmanul Hakim adalah seorang yang Shalih. Dan mayoritas para ulama bersepakat bahwa Luqmanul Hakim adalah orang yang Shalih, yang diberikan hikmah oleh Allah. 

‎Diabadikan dalam Al-Qur’an tepatnya dalam surat Luqman ayat 12-19. Hal ini menjadi bukti bahwa nasihat orang tua adalah bentuk  kasih sayang  yang teramat besar untuk anaknya.


‎* Menanamkan Tauhid

‎‎‎“Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya syirik itu benar-benar kedzaliman yang besar”. (Qs. Luqman: 13)

‎‎Ayat ini adalah bukti kasih sayang orang tua yang tidak ingin anaknya tersesat. Ia mengarahkan anaknya kepada tauhid agar kehidupannya penuh keberkahan. Tauhid adalah fondasi utama yang harus kita ajarkan kepada anak, tanpa tauhid segala prestasi, harta, dan kedudukan yang dicapai seorang anak tidak ada nilainya disisi Allah.


* Mengajarkan untuk berbakti dan bersyukur

‎‎ ” Dan Kami perintahkan manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Luqman: 14)

‎‎Ayat ke 14 ini merupakan firman Allah yang disisipkan ditengah tengah nasehat Luqman kepada anaknya, terlepas dari itu kewajiban untuk mengajarkan anak berbakti kepada orang tua adalah mutlak adanya, karena anak bisa hadir di dunia, juga adanya sebab orang tua. Oleh sebab itu berbakti kepada orang tua dan bersyukur adalah keseimbangan kasih sayang terhadap manusia dan Allah.


‎* Membiasakan beribadah

‎”Wahai anakku dirikanlah shalat” (Qs. Luqman: 17)

‎‎Di ayat ini Luqman menyampaikan”wahai anakku dirikanlah shalat” , tentunya ini merupakan  kasih sayang orang tua yang penuh kasih tidak hanya menyuruh anaknya untuk belajar, dan mencari dunia saja, tetapi juga membiasakan ibadah sejak kecil. Karena shalat adalah fondasi utama untuk membentuk karakter akhlak yang baik serta penjaga jiwa dari sifat tercela.

‎‎Setelah itu dikalimat yang berikutnya (Qs. Luqman: 17) Luqman mengajarkan akan pentingnya amar ma’ruf nahi munkar dan kesabaran, artinya seorang anak harus di didik untuk memiliki sikap tegas dalam kebenaran dan bersabar ketika ujian hidup itu menimpa.


‎* Mendidik akhlak dan kesopanan

‎”Janganlah engkau memalingkan wajah dari manusia dengan sombong dan jangan berjalan di bumi dengan angkuh.” (QS. Luqman: 18)

‎‎Di ayat ini Luqman menutup nasehat kepada anaknya untuk tidak berperilaku sombong dan suka merendahkan yang lain, tentunya ini adalah pelajaran penting orang tua untuk mengajarkan dan mendidik anak agar memiliki akhlak yang baik , mengajarkan kerendahan hati , sopan santun dan sederhana dalam pergaulan. 

‎Sejalan dengan itu memang benar kita hidup didunia ini tidak boleh sombong dan angkuh, serta suka merendahkan orang lain. Diayat yang lain Allah sudah menegaskan: 

‎”Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung”. ‎(Qs. Al-Isra’: 37) 


‎Kondisi Zaman Sekarang

‎‎Saudara ku hari ini kita hidup di zaman modern yang penuh dengan tantangan. Anak-anak lebih dekat dengan gadget mereka  dibanding dengan orang tuanya. Banyak orang tua yang sibuk mencari nafkah hingga lupa mendidik anak. Bahkan ada orang tua yang sudah merasa cukup hanya dengan memasukkan anak ke sekolah, tanpa mendampingi mereka dalam ibadah dan akhlak. Kita sudah diingatkan oleh Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, bahwa masing masing dari kita ini adalah pemimpin yang nantinya akan dimintai pertanggung jawaban terhadap yang dipimpinnya: 

‎‎”Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari Muslim)

‎Maka, orang tua adalah pemimpin dalam rumah tangga, dan anak-anak adalah amanah yang harus kita jaga dengan kasih sayang. 


Penutup

‎‎Saudara ku mari kita jadikan kisah Luqmanul Hakim ini sebagai keteladanan dalam mendidik anak-anak kita. Tunjukkan kasih sayang dengan mengajarkan tauhid, membimbing mereka dalam ibadah, menanamkan akhlak mulia, serta mendoakan mereka dalam setiap kesempatan.

‎‎Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang tua yang penuh kasih sayang, dan menjadikan anak-anak kita sebagai generasi yang shalih dan shalihah, agar menjadi penyejuk mata di dunia, serta pemberi syafa’at di akhirat kelak.

Pengaruh Kesalehan Orang Tua Terhadap Kesuksesan Anaknya

Oleh : Chandra Aditya
Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri

Refleksi Sosial

Siang itu sebelum berangkat ke kampus, iseng saya mampir ke lapak pak Yuli, penjual es puter dan rujak buah, kebetulan beliau satu alumni juga dengan saya di salah satu SMA Negeri di Kediri, tapi senior jauh dari saya. Sambil menikmati es puter yang di hidangkan, kita mengobrol tak tentu arah, namun ada satu obrolan yang membuat takjub perasaan ini, ketika saya tanya.. ‘Putra ne pinten Pak Yul’ (anaknya berapa Pak Yul ?)

‘Kaleh mas’.. (dua mas), jawabnya,

‘Tasek sekolah nopo sampun nyambut pak ?’ (masih sekolah atau sudah kerja Pak ?), sambung saya,

‘Nggih, Alhamdulillah wes nyambut mas, setunggale dados guru, setunggale teng Ambon’ (Iya, Alhamdulillah sudah kerja mas, satunya jadi guru, satunya lagi di Ambon),

Lanjut Pak Yuli dalam obrolan, nggih Alhamdulillah mas, atiku wes marem mas, anak-anak ku ditampi dados ASN sedanten (iya alhamdulillah mas, hati ku sudah puas/lega mas, anak anak ku diterima ASN semuanya)

Pada momen obrolan inilah yang membuat hati takjub, seorang bapak yang hanya berjualan es puter rujak buah. Mampu membawa anak-anak nya mencapai sebuah kesuksesan. Rasa penasaran ini terus menyelimuti hati, saya tanya lagi ‘Pak Yul, dibalik kesuksesan anak-anak e samean mesti ada pengorbanan e wong tuo, kiro kiro nopo resep e ?’ (Pak Yul, dibalik kesuksesan anak anak pasti ada pengorbanannya sebagai orang tua, kira kira apa resepnya ?),

Sambil tersenyum beliau menyampaikan ‘sampun rezekine mas’, saya timpal ‘hehehe rezeki niku sudah mutlak Pak Yul, tapi kan ya mesti ada pengorbanan, tirakat orang tua yang bisa menjadi wasilah kesuksesan anak to’,

‘Nganu mas, kulo niki kaleh nyonya niku sering tirakat Puasa Daud, sampek sak niki,  nggih mungkin niki salah setunggal e sebab e lak kulo pikir pikir’ (anu mas, saya sama istri sering Puasa Daud, sampai sekarang, mungkin ini salah satu penyebabnya kalau saya pikir pikir), 

Relevansi dengan ayat 82 surat Al Kahfi

Tidak sedikit orang tua lupa sebab non-material yang kasat mata -boleh jadi memiliki pengaruh lebih besar kepada keshalihan dan kesuksesan anak seperti doa, menjaga ibadah dan jenis keshalihan lainnya.

Al-Qur’an telah menyebutkan faktor penting untuk anak dan sebab sukses anak yaitu keshalihan orang tua. Keberkahan amal shalih orang tua akan menurunkan kebaikan dan kesuksesan kepada anak-anaknya. Kedekatan orang tua kepada Allah memiliki pengaruh kuat untuk kebaikan. Sebagaimana yang difirmankan Allah :

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shaleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (QS. Al-Kahfi: 82)

Allah memerintahkan kepada Nabi Khidir untuk memperbaiki bangunan rumah yang hampir roboh itu dengan tujuan agar harta simpanan 2 orang anak yatim itu terjaga. Sebabnya, karena kesalihan bapak mereka.

Menukil Keterangan dari Sa’id bin Jubair  bahwa orang tua mereka selalu menunaikan amanat dan titipan kepada pemiliknya. Kemudian Allah Ta’ala menjaga harta simpanannya sehingga ditemukan kedua anaknya lalu keduanya mengambilnya.

Imam Ibnu Katsir didalam tafsirnya berkata tentang ayat 82 surat Al Kahfi : 

“Di dalamnya ada dalil bahwa laki-laki yang shalih akan dijaga keturunannya. Ini mencakup keberkahan ibadahnya untuk anak turunnya di dunia dan akhirat dengan syafaatnya untuk mereka, diangkat derajat mereka ke tingkatan lebih tinggi di surga agar gembira melihat mereka sebagaimana diterangkan di Al-Qur’an dan disebutkan Sunnah.”

Kesimpulan

‎‎Dari obrolan singkat itu, membuat termenung didalam hati , “mungkin orang tua tidak bisa merasakan keberhasilan didalam hidupnya saat ini , namun apa yang sudah dikorbankan dengan tidak meninggalkan ketaatan kepada Allah, mungkin inilah jalan keberhasilan untuk anak anaknya”. Masih panjang obrolan kami, tapi inilah titik dimana membuat saya berfikir.