Resepsi Milad ke-113 Muhammadiyah Kota Kediri: Meneguhkan Peran Dakwah dan Gerakan Sosial untuk Memajukan Kesejahteraan Bangsa

Resepsi Milad ke-113 Muhammadiyah Kota Kediri: Meneguhkan Peran Dakwah dan Gerakan Sosial untuk Memajukan Kesejahteraan Bangsa

Kediri — Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Kediri menggelar Resepsi Milad ke-113 Muhammadiyah sebagai acara puncak dari seluruh rangkaian peringatan Milad ke-113 Muhammadiyah, pada Ahad (14/12/2025). Kegiatan berlangsung khidmat dan penuh semangat di Aula Ki Bagus Hadi Kusumo dan Aula Lantai 1 Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM) Kota Kediri, dengan dihadiri ratusan warga Muhammadiyah dan masyarakat umum.

Resepsi Milad yang mengusung tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa” ini dihadiri oleh jajaran PDM Kota Kediri, seluruh Unit Pembantu Pimpinan (UPP), Organisasi Otonom (Ortom), PCM dan PRM se-Kota Kediri, Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah beserta PCA dan PRA nya, dan seluruh Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang ada di Kota Kediri.

Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Mars Sang Surya, yang menambah nuansa nasionalisme dan kebanggaan terhadap persyarikatan.

Dalam sambutannya, Ketua PDM Kota Kediri H. Achmad Khoirudin, M.Pd.I. menegaskan bahwa tema Milad ke-113 Muhammadiyah sangat relevan dengan jati diri Muhammadiyah sebagai gerakan amar ma’ruf nahi munkar yang tidak hanya bergerak dalam dakwah Islam, tetapi juga aktif dalam bidang sosial, pendidikan dan kesejahteraan masyarakat.

Foto oleh Joko Darmono

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Qashash ayat 77 yang menekankan keseimbangan antara orientasi akhirat dan tanggung jawab dunia, serta pentingnya berbuat kebaikan dan menjauhi kerusakan. Menurutnya, ayat tersebut menjadi landasan kuat bagi Muhammadiyah untuk terus berkontribusi nyata bagi umat dan bangsa.

“Momentum Milad ini mari kita jadikan sebagai tonggak untuk memperkuat persatuan, meningkatkan kualitas dakwah, serta terus memajukan kesejahteraan bangsa, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Ketua PDM Kota Kediri juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh panitia dan semua pihak yang telah bekerja keras mensukseskan seluruh rangkaian kegiatan Milad ke-113 Muhammadiyah di Kota Kediri ini.

Foto oleh Joko Darmono

Resepsi Milad semakin bermakna dengan mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Khoirul Abduh, S.Ag., M.Si., Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur bidang Kesejahteraan Sosial dan Pembinaan AMM. Dalam kajian bertajuk “Peran Kader Muhammadiyah dalam Memajukan Kesejahteraan Bangsa”, ia mengajak seluruh kader untuk terus berperan aktif, adaptif dan solutif dalam menjawab tantangan zaman demi kemaslahatan umat.

Foto oleh Joko Darmono

Ketahui lebih dalam kajian nya di video berikut:

Video oleh Islah Alyaubi

Sebagai penutup, panitia juga mengumumkan dan menyerahkan hadiah kepada para pemenang lomba-lomba Milad ke-113 Muhammadiyah yang telah diselenggarakan sebelumnya, menambah semarak dan kebahagiaan seluruh peserta.

Foto oleh Joko Darmono

Dengan suasana aula GDM yang representatif dan nyaman, Resepsi Milad ke-113 Muhammadiyah Kota Kediri menjadi peneguh komitmen bersama untuk terus menggerakkan dakwah berkemajuan dan memperluas kontribusi nyata bagi kesejahteraan bangsa. (mLs)

Menanam Iman Sejak Dini, Festival Anak Sholeh Muhammadiyah Kota Kediri Cetak Generasi Islam Unggul dan Berprestasi

Kediri — Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Kediri menggelar Festival Anak Sholeh sebagai bagian dari rangkaian Milad ke-113 Muhammadiyah dengan tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM) Kota Kediri, Rabu (10/12/2025), dan diikuti oleh ratusan anak dari berbagai sekolah di Kota Kediri.

Festival ini diikuti oleh murid-murid dari sekolah Muhammadiyah maupun sekolah umum. Sejak pagi hari, suasana GDM tampak semarak karena hampir seluruh ruangan digunakan untuk menyelenggarakan berbagai perlombaan keagamaan yang menjadi agenda utama Festival Anak Sholeh.

Foto oleh Panitia

Beragam lomba digelar dalam kegiatan ini, di antaranya Lomba Hafidz Al-Qur’an Juz 30, Lomba Da’i Cilik, Lomba Kaligrafi dan Lomba Adzan. Seluruh cabang lomba dirancang untuk mengasah bakat, menyalurkan kemampuan, serta mendorong prestasi anak-anak di bidang keagamaan Islam sejak usia dini.

Foto dan Video oleh Panitia

Proses penilaian dilakukan oleh juri-juri berkompeten, yang sebagian besar merupakan pengurus Majelis Tabligh PDM Kota Kediri di bawah kepemimpinan Ustadz Gunardi el Banjary. Penilaian setiap lomba dilakukan secara objektif dengan kriteria yang jelas dan terukur.

Pada Lomba Hafidz Al-Qur’an Juz 30, peserta dinilai berdasarkan makhraj dan tajwid, kelancaran serta ketepatan hafalan, fashahah, irama atau lagu (qira’ah), serta adab dan etika saat tampil. Lomba Da’i Cilik menitikberatkan pada penguasaan materi, teknik penyampaian, adab dan penampilan, manajemen waktu, serta kemampuan vokal dan penguasaan panggung.

Sementara itu Lomba Kaligrafi dinilai dari aspek kerapihan, keindahan dan estetika, kesesuaian kaidah penulisan, paduan warna, serta kreativitas. Adapun Lomba Adzan dinilai dari makhraj dan tajwid, irama dan kualitas suara, penjiwaan, serta adab dan kerapihan peserta.

Foto oleh Panitia

Panitia menyampaikan bahwa Festival Anak Sholeh ini bertujuan untuk mengasah bakat, menyalurkan kemampuan, dan meraih prestasi di bidang keagamaan Islam, sekaligus mencari bibit-bibit unggul yang diharapkan menjadi generasi penerus dakwah Islam berkemajuan.

“Melalui kegiatan ini, Muhammadiyah ingin menanamkan nilai-nilai keislaman sejak dini, membangun karakter anak yang religius, percaya diri dan berprestasi.”

Bagi beberapa peserta terbaik panitia menyiapkan sertifikat, trofi, dan hadiah sebagai bentuk apresiasi. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib dan lancar, didukung suasana Gedung Dakwah Muhammadiyah yang representatif dan nyaman.

Melalui Festival Anak Sholeh ini PDM Kota Kediri menegaskan komitmennya dalam membangun generasi muda yang berakhlak mulia dan berdaya saing. Sejalan dengan tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”, pembinaan keagamaan sejak dini dipandang sebagai fondasi penting dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul bagi masa depan bangsa yang lebih baik. (mLs)

Dakwah Tanpa Mimbar: Kirab Milad ke-113 Muhammadiyah Kota Kediri Gaungkan Semangat Memajukan Kesejahteraan Bangsa

Kediri — Pengurus dan simpatisan Muhammadiyah Kota Kediri tumpah ruah mengikuti Kirab Milad ke-113 Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Kediri, Kamis (27/11/2025). Kegiatan yang mengusung tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa” ini menjadi sarana dakwah kreatif dan sosialisasi Muhammadiyah kepada masyarakat luas.

Foto oleh Joko Darmono

Kirab dimulai dari Komplek Perguruan Muhammadiyah Kota Kediri pada pagi hari dengan cuaca cerah yang mendukung jalannya kegiatan. Peserta kirab berasal dari berbagai unsur persyarikatan, mulai dari PDM Kota Kediri, seluruh Unit Pembantu Pimpinan (UPP) yang terdiri dari majelis dan lembaga, hingga seluruh organisasi otonom (Ortom) Muhammadiyah di Kota Kediri turut ambil bagian, yaitu Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA), Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Hizbul Wathan (HW), serta Tapak Suci Putera Muhammadiyah (TSPM) Kota Kediri. Tidak kalah semarak, seluruh guru dan murid dari sekolah-sekolah Muhammadiyah—mulai TK ABA 1 hingga 10, SD Muhammadiyah, SMP Muhammadiyah, SMA Muhammadiyah, hingga SMK Muhammadiyah 1 dan 2—ikut memeriahkan kirab tersebut, dan begitu pula seluruh Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) lainnya yang di Kota Kediri.

Rute kirab menempuh perjalanan dari Komplek Perguruan Muhammadiyah, melewati Jalan Penanggungan ke arah selatan, masuk Gang 2 Bandar Lor, tembus ke Jalan KH. Wachid Hasyim, kemudian bergerak ke utara hingga Pasar Bandar Lor dan Polresta Kediri. Rombongan selanjutnya melewati Taman Sekartaji, masuk ke Jalan Veteran terus bergerak ke barat hingga perempatan Veteran, lalu berbelok ke selatan untuk kembali ke titik awal di Komplek Perguruan Muhammadiyah.

Foto oleh Joko Darmono

Panitia menyampaikan bahwa kegiatan kirab ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan Milad ke-113 Muhammadiyah sekaligus sebagai bentuk dakwah tanpa mimbar. Melalui kirab, Muhammadiyah Kota Kediri ingin lebih dekat dengan masyarakat, memperkenalkan nilai-nilai Islam berkemajuan, serta menunjukkan kontribusi nyata Muhammadiyah dalam kehidupan sosial, pendidikan, dan kebangsaan.

Sepanjang kirab, masing-masing kelompok peserta tampil kreatif dengan mengenakan berbagai atribut, kostum tematik, serta menghias kendaraan mereka dengan beragam ornamen menarik. Keunikan dan kekompakan setiap kelompok dinilai oleh panitia untuk menentukan peserta terbaik.

Setelah kirab selesai, acara dilanjutkan dengan penampilan bakat dan kemampuan siswa-siswi sekolah Muhammadiyah yang menampilkan berbagai kesenian sebagai hiburan bagi peserta dan masyarakat. Di akhir kegiatan, panitia langsung mengumumkan kelompok-kelompok pemenang kirab terbaik, disambut antusias oleh seluruh peserta.

Foto oleh Joko Darmono

Melalui kegiatan ini, PDM Kota Kediri menegaskan bahwa peringatan Milad Muhammadiyah bukan hanya seremonial, tetapi juga menjadi media dakwah yang membumi dan menyenangkan. Sejalan dengan tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”, kirab ini menjadi simbol gerakan Muhammadiyah yang terus hadir di tengah masyarakat, menyebarkan pesan kebaikan, persatuan dan kemajuan dengan cara yang kreatif dan inklusif. (mLs)

Usung Tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”, Apel Milad ke-113 Muhammadiyah Satukan Elemen Persyarikatan di Kota Kediri

Kediri — Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Kediri menggelar Apel Milad ke-113 Muhammadiyah di Lapangan SMP Muhammadiyah Kota Kediri, Selasa (18/11/2025). Mengusung tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”, apel ini menjadi momentum konsolidasi dan penguatan semangat berkemajuan seluruh elemen Muhammadiyah di Kota Kediri.

Kegiatan yang berlangsung di kawasan Perguruan Muhammadiyah Kota Kediri tersebut diikuti ratusan peserta dari berbagai unsur persyarikatan. Hadir jajaran PDM, Unit Pembantu Pimpinan (UPP) yang terdiri dari berbagai Majelis dan Lembaga, tiga Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM)—PCM Kota, PCM Mojoroto, dan PCM Pesantren—serta seluruh organisasi otonom (Ortom) Muhammadiyah.

Organisasi otonom yang turut ambil bagian antara lain Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kota Kediri, Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Hizbul Wathan (HW), serta Tapak Suci Putera Muhammadiyah (TSPM), serta seluruh Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang di Kota Kediri.

Selain itu seluruh guru dan siswa dari sekolah-sekolah Muhammadiyah—mulai SD, SMP, SMA, hingga SMK Muhammadiyah 1 dan 2 Kota Kediri—turut ikut serta memeriahkan apel Milad ini.

Foto oleh Joko Darmono

Apel dipimpin langsung oleh Ketua PDM Kota Kediri, H. Achmad Khoirudin, M.Pd.I., yang bertindak sebagai inspektur apel, dengan Ramanda Paijan dari HW sebagai komandan apel. Rangkaian apel berlangsung khidmat, diawali dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Sang Surya, sambutan inspektur apel, hingga penutupan.

Foto oleh Joko Darmono

Dalam sambutannya Ketua PDM menegaskan bahwa tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa” bukan sekadar slogan, melainkan panggilan nyata bagi seluruh elemen Muhammadiyah untuk terus berkontribusi bagi masyarakat dan negara.

Muhammadiyah Kota Kediri harus terus memperkuat perannya dalam bidang pendidikan, sosial, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi umat. Seluruh Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), kader, dan organisasi otonom diharapkan semakin solid, adaptif, dan inovatif dalam menjawab tantangan zaman.

“Di usia ke-113 tahun ini, Muhammadiyah dituntut untuk terus hadir memberikan solusi, memajukan kesejahteraan bangsa melalui kerja nyata, serta menjaga komitmen dakwah Islam berkemajuan yang rahmatan lil ‘alamin”.

Foto oleh Joko Darmono

Apel Milad ke-113 Muhammadiyah berlangsung tertib dan penuh semangat kebersamaan, cuaca yang bersahabat semakin menambah kekhidmatan acara, menjadikan apel ini sebagai simbol kesiapan Muhammadiyah Kota Kediri untuk terus bergerak maju dan berkontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat dan kemajuan bangsa. (mLs)

‎Keteguhan Hati dalam Mencari Rezeki: Cermin Keimanan Seorang Muslim

Oleh: Chandra Aditya
(Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri)


‎Saudara ku di sebuah sudut SPBU, terlihat seorang bapak tua duduk sederhana dengan topi hitamnya. Di tangannya tergenggam sebuah keranjang berisi pisang rebus dan tahu goreng  yang ia jual. Di usianya yang sudah renta, ia tetap berusaha mencari rezeki dengan keringat sendiri, tanpa bergantung pada belas kasihan orang lain. Pemandangan ini sesungguhnya menyimpan pesan besar tentang makna hidup untuk diri kita.


‎Mencari Rezeki Halal

‎‎Islam menjadikan cara mencari rezeki yang halal sebagai bagian dari ibadah. Bahkan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menyatakan “Tidaklah seorang memakan makanan yang lebih baik dari hasil usaha tangannya sendiri. Dan sungguh Nabi Dawud makan dari hasil usahanya sendiri”. (Hadist Riwayat Bukhari)

‎‎Oleh karena itu kita melihat betapa mulianya seseorang yang meskipun sudah tua, tetap memilih jalan yang halal, sekalipun hasilnya tidak seberapa. Tidak ada keraguan bahwa usaha kecil yang dilakukan dengan hati yang ikhlas lebih bernilai di sisi Allah dibandingkan dengan harta banyak  yang diperoleh dengan cara haram.

‎‎Usaha bapak tua ini juga menjadi pengingat untuk dirikita bahwa ikhtiar tidak mengenal usia. Tawakkal kepada Allah bukanlah duduk diam menunggu datangnya pertolongan, melainkan harus terus bergerak, berusaha, dan  menyerahkan sepenuhnya kepada Sang Pemberi Rezeki. 

‎Kita sering mendengar, sabda Rasulullah tentang Seekor burung yang keluar dari sarangnya di pagi hari lalu kembali di sore hari dalam keadaan kenyang adalah contoh nyata dari hakikat tawakkal. Demikian pula kita sebagai manusia, hendaknya tidak meninggalkan ikhtiar meskipun mungkin usia sudah tidak muda lagi.

‎‎Di balik sosok bapak tua yang hebat itu , ada buah kesabaran yang luar biasa. Tidak peduli Panas, hujan, dan beban hidup  yang tidak menyurutkan langkah kakinya untuk tetap berjualan. Kesabaran dalam menghadapi keterbatasan adalah tanda keteguhan iman. Allah  menjanjikan kabar gembira untuk mereka yang selalu bersabar:

‎‎”Dan sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”
(Qs. Al-Baqarah: 155)

‎Dan di dalam kesabaran itulah tersimpan kekuatan yang membuat seorang Muslim tetap kuat, meskipun segala macam ujian kehidupan terus menimpa.

‎‎Saudara ku pemandangan seperti ini seharusnya juga menjadi cermin untuk  generasi muda. Jika seorang bapak tua saja masih berjuang mencari rezeki dengan cara yang halal, bagaimana mungkin anak muda yang tubuhnya masih kuat justru bermalas-malasan, atau bahkan mencari jalan pintas yang haram?  Lelah karena bekerja mencari yang halal adalah kelelahan yang mendatangkan ampunan Allah, sedangkan kemalasan hanya akan menjadikan sebuah penyesalan.

‎‎Rasulullah juga memperingatkan dengan sabdanya:
“Barangsiapa yang terus-menerus meminta-minta kepada manusia, maka di Hari Kiamat ia akan datang dalam keadaan wajahnya tidak ada dagingnya sama sekali.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

‎‎Hadits ini mengingatkan kita bahwa meminta-minta tanpa kebutuhan yang mendesak adalah kehinaan di dunia sekaligus azab di akhirat. Sebaliknya, bapak tua penjual pisang dan tahu goreng  ini lebih memilih menjaga kehormatan dirinya dengan tetap berusaha mencari nafkah, walaupun dengan cara yang sederhana.


‎‎Penutup

‎‎Gambar sederhana tentang bapak tua penjual pisang dan tahu goreng di sudut SPBU ini bukan sekadar potret sosial, melainkan cermin keteguhan  keimanan yang nyata. Dari sana kita bisa belajar tentang kesungguhan mencari rezeki halal, keteguhan hati dalam bertawakkal, kesabaran dalam menjalani hidup, dan juga teguran bagi mereka yang masih muda agar tidak bermalas-malasan.

‎‎Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hambanya yang selalu ikhlas dalam berusaha, bersabar dalam menghadapi setiap ujian, serta selalu menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah.

‎‎* Foto ini saya ambil dari dalam mobil ketika akan safar ke Surabaya, sengaja dijadikan model kartun untuk menjaga privasi beliau.

Mengapa Nasehat Harus Selalu Diulang

Oleh : Chandra Aditya
(Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri)

‎Saudara ku dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita mendengar nasihat yang sama diulang-ulang. Entah dari orang tua, guru, ustaz, ataupun para ulama. Terkadang muncul sebuah pertanyaan, “Mengapa nasihat harus diulangi terus, padahal sudah pernah disampaikan?”.

Kalau kita melihat dengan pandangan Islam, tentunya pengulangan nasihat itu justru memiliki hikmah dan nilai yang sangat besar. ‎Kita sebagai manusia pada dasarnya adalah makhluk yang mudah lupa. Oleh karena itulah, manusia sangat membutuhkan pengingat. Allah sudah menegaskan dalam Al-Qur’an:

‎“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.”
‎(QS. Adz-Dzariyat: 55)

‎‎Ayat ini menunjukkan bahwa nasihat yang diulang-ulang bukanlah hal yang sia-sia, melainkan sarana agar hati yang lalai kembali sadar.

‎Nasihat juga ibarat obat hati. Sebagaimana tubuh membutuhkan makanan setiap hari agar kuat, hati pun juga memerlukan makanan iman secara terus-menerus agar tetap hidup. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sering mengulang-ulang nasihat penting kepada para sahabatnya, terutama tentang pentingnya salat, memiliki akhlak yang baik, serta menjaga lisan. Hal ini dilakukan karena hati manusia bisa mengeras, dan hanya dengan pengingat yang terus diberikan hati dapat menjadi lembut kembali.

‎Selain itu ilmu dan pesan nasihat kebaikan yang hanya didengar sekali mudah hilang begitu saja. Dengan pengulangan, nasihat akan lebih kuat tertanam di dalam jiwa. Bahkan Al-Qur’an pun berulang kali menceritakan kisah para nabi dan mengingatkan kita tentang kebesaran Allah serta hari kiamat. Semua itu memiliki hikmah yang besar, yaitu agar manusia semakin ingat, semakin paham, dan semakin siap dalam menghadapi kehidupan.

‎Nasihat yang terus kali diulang, disampaikan, bukan berarti hanya untuk orang lain saja, tetapi juga untuk diri kita sendiri. Setiap kali mendengar nasihat, sesungguhnya itu adalah cermin bagi hati kita, agar kembali muhasabah. Bahkan seorang ustaz atau ulama, ketika menyampaikan nasihat, sebenarnya sedang menasihati dirinya terlebih dahulu.

‎Pengulangan nasihat juga merupakan wujud kasih sayang. Orang tua yang tak pernah lelah mengingatkan anaknya untuk salat, guru yang terus selalu mengingatkan pentingnya kejujuran, atau ulama yang berkali-kali menyeru umat agar bertakwa semuanya itu adalah tanda perhatian, kepedulian serta kasih sayang. Karena sekali saja manusia lalai, ia bisa terjerumus dalam dosa yang besar.

‎Lebih dari itu, setiap zaman ada masanya, dan setiap masa ada orangnya. Kita juga perlu mengingat bahwa akan selalu ada generasi penerus kedepan yang hadir, maka nasihat harus terus diulang agar mereka pun mendapatkan bimbingan. Apa yang kita dengar hari ini bisa menjadi bekal penting bagi anak-anak kita di masa depan. Dengan demikian, nasihat tidak akan pernah hilang, justru selalu relevan dari waktu ke waktu.

Belum tentu pula semua orang di sekitar kita sudah memahami agama. Ada yang baru belajar, ada yang masih lalai, bahkan ada yang sama sekali belum mengenalnya dengan baik. Oleh karena itu dengan terus menyampaikan nasihat, yang belum tahu akan menjadi tahu, yang lupa bisa diingatkan, dan yang sudah paham akan semakin kuat dalam keyakinannya.

‎Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sudah mengingatkan kita bahwa: ‎ “agama adalah nasihat”. (HR. Muslim)

‎Tentunya ini mengisyaratkan bahwa nasihat adalah inti dari agama, sehingga memang harus disampaikan terus-menerus.

‎Saudaraku mengulang-ulang nasihat bukanlah tanda kebosanan, melainkan tanda kasih sayang. Sebagaimana Al-Qur’an berulang kali mengingatkan kita tentang tauhid, sabar, syukur, dan takwa, demikian pula nasihat dalam kehidupan kita sehari-hari.

Nasihat adalah cahaya penuntun, pengingat yang akan menyelamatkan, dan pengulangan adalah bukti cinta dan kasih sayang. Setiap zaman akan berganti, setiap generasi akan lahir, dan tidak semua orang memahami agama dengan baik. Maka selama itu pula, nasihat harus terus disampaikan, agar manusia selalu berada di jalan kebenaran.

Kasih Sayang Orang Tua Kepada Anak: Meneladani Kehidupan Luqmanul Hakim

Oleh: Chandra Aditya
(Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri)

‎Saudara ku Islam menjadikan kasih sayang orang tua sebagai fondasi utama dalam mendidik anak. Orang tua bukan hanya sebagai pemberi nafkah saja , tetapi juga menjadi seorang pembimbing, pengarah, dan teladan untuk anak. Anak adalah amanah yang dititipkan Allah, yang pastinya nanti akan dimintai pertanggung jawaban.

‎‎“Wahai orang orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. (Qs. At-Tahrim: 6)

‎‎Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa bentuk kasih sayang orang tua terbesar adalah menjaga anak-anaknya dari api neraka, yaitu dengan mendidik mereka untuk mengenal Allah, membimbing untuk beribadah dan memberikan keteladanan dengan akhlak yang mulia.

‎‎Banyak orang tua yang beranggapan bahwa kasih sayang mereka kepada anak  cukup hanya dengan memberikan makanan enak, pakaian bagus, serta fasilitas yang mereka inginkan. Padahal kasih sayang orang tua yang nyata kepada anak adalah dengan membimbing mereka agar bisa selamat dunia dan akhirat.


‎Wasiat Emas Lukmanul Hakim

‎‎Luqmanul Hakim, seorang hamba Allah yang memberikan keteladanan serta bimbingan kepada anaknya, diabadikan dalam Al-Qur’an untuk menjadi contoh  orang tua masa kini, agar bisa mendidik, membimbing, anak-anak mereka menjadi anak yang shalih dan shalihah, selamat dunia dan akhirat. Terdapat dua pendapat tentang Luqmanul Hakim, pendapat pertama mengatakan bahwa Luqmanul Hakim ini adalah seorang nabi, pendapat kedua mengatakan bahwa Luqmanul Hakim adalah seorang yang Shalih. Dan mayoritas para ulama bersepakat bahwa Luqmanul Hakim adalah orang yang Shalih, yang diberikan hikmah oleh Allah. 

‎Diabadikan dalam Al-Qur’an tepatnya dalam surat Luqman ayat 12-19. Hal ini menjadi bukti bahwa nasihat orang tua adalah bentuk  kasih sayang  yang teramat besar untuk anaknya.


‎* Menanamkan Tauhid

‎‎‎“Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya syirik itu benar-benar kedzaliman yang besar”. (Qs. Luqman: 13)

‎‎Ayat ini adalah bukti kasih sayang orang tua yang tidak ingin anaknya tersesat. Ia mengarahkan anaknya kepada tauhid agar kehidupannya penuh keberkahan. Tauhid adalah fondasi utama yang harus kita ajarkan kepada anak, tanpa tauhid segala prestasi, harta, dan kedudukan yang dicapai seorang anak tidak ada nilainya disisi Allah.


* Mengajarkan untuk berbakti dan bersyukur

‎‎ ” Dan Kami perintahkan manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Luqman: 14)

‎‎Ayat ke 14 ini merupakan firman Allah yang disisipkan ditengah tengah nasehat Luqman kepada anaknya, terlepas dari itu kewajiban untuk mengajarkan anak berbakti kepada orang tua adalah mutlak adanya, karena anak bisa hadir di dunia, juga adanya sebab orang tua. Oleh sebab itu berbakti kepada orang tua dan bersyukur adalah keseimbangan kasih sayang terhadap manusia dan Allah.


‎* Membiasakan beribadah

‎”Wahai anakku dirikanlah shalat” (Qs. Luqman: 17)

‎‎Di ayat ini Luqman menyampaikan”wahai anakku dirikanlah shalat” , tentunya ini merupakan  kasih sayang orang tua yang penuh kasih tidak hanya menyuruh anaknya untuk belajar, dan mencari dunia saja, tetapi juga membiasakan ibadah sejak kecil. Karena shalat adalah fondasi utama untuk membentuk karakter akhlak yang baik serta penjaga jiwa dari sifat tercela.

‎‎Setelah itu dikalimat yang berikutnya (Qs. Luqman: 17) Luqman mengajarkan akan pentingnya amar ma’ruf nahi munkar dan kesabaran, artinya seorang anak harus di didik untuk memiliki sikap tegas dalam kebenaran dan bersabar ketika ujian hidup itu menimpa.


‎* Mendidik akhlak dan kesopanan

‎”Janganlah engkau memalingkan wajah dari manusia dengan sombong dan jangan berjalan di bumi dengan angkuh.” (QS. Luqman: 18)

‎‎Di ayat ini Luqman menutup nasehat kepada anaknya untuk tidak berperilaku sombong dan suka merendahkan yang lain, tentunya ini adalah pelajaran penting orang tua untuk mengajarkan dan mendidik anak agar memiliki akhlak yang baik , mengajarkan kerendahan hati , sopan santun dan sederhana dalam pergaulan. 

‎Sejalan dengan itu memang benar kita hidup didunia ini tidak boleh sombong dan angkuh, serta suka merendahkan orang lain. Diayat yang lain Allah sudah menegaskan: 

‎”Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung”. ‎(Qs. Al-Isra’: 37) 


‎Kondisi Zaman Sekarang

‎‎Saudara ku hari ini kita hidup di zaman modern yang penuh dengan tantangan. Anak-anak lebih dekat dengan gadget mereka  dibanding dengan orang tuanya. Banyak orang tua yang sibuk mencari nafkah hingga lupa mendidik anak. Bahkan ada orang tua yang sudah merasa cukup hanya dengan memasukkan anak ke sekolah, tanpa mendampingi mereka dalam ibadah dan akhlak. Kita sudah diingatkan oleh Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, bahwa masing masing dari kita ini adalah pemimpin yang nantinya akan dimintai pertanggung jawaban terhadap yang dipimpinnya: 

‎‎”Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari Muslim)

‎Maka, orang tua adalah pemimpin dalam rumah tangga, dan anak-anak adalah amanah yang harus kita jaga dengan kasih sayang. 


Penutup

‎‎Saudara ku mari kita jadikan kisah Luqmanul Hakim ini sebagai keteladanan dalam mendidik anak-anak kita. Tunjukkan kasih sayang dengan mengajarkan tauhid, membimbing mereka dalam ibadah, menanamkan akhlak mulia, serta mendoakan mereka dalam setiap kesempatan.

‎‎Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang tua yang penuh kasih sayang, dan menjadikan anak-anak kita sebagai generasi yang shalih dan shalihah, agar menjadi penyejuk mata di dunia, serta pemberi syafa’at di akhirat kelak.

Jangan Padamkan Cahaya Ilmu dengan Kemaksiatan

Oleh : Chandra Aditya
(Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri)

‎Saudara ku, ada sebuah nasehat yang tertulis di dalam Kitab Ta’lim Muta’allim karya Imam Burhanuddin Az-Zarnuji, kitab yang masyhur di kalangan pesantren bahkan juga sering menghiasi kajian-kajian di majelis taklim pada umumnya. Begitu banyak nasehat dan motivasi yang tertulis di dalam kitab tersebut untuk mendorong semangat para pencari ilmu dalam proses belajar mereka.

‎‎Nasehat itu sejatinya tidak hanya diperuntukkan bagi para pelajar di bangku sekolah atau santri di pondok pesantren saja, tetapi berlaku untuk setiap muslim. Dalam Islam, kewajiban menuntut ilmu itu tidak dibatasi oleh usia, jabatan, ataupun status sosial. Selama Allah masih memberikan usia, kewajiban  menuntut ilmu tetap melekat pada diri setiap muslim, sebagaimana yang Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sabdakan:

‎‎“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.”
(HR. Ibnu Majah)

Hadits ini tentunya menjadi dasar bahwa ilmu adalah jalan bagi seorang hamba untuk mengenal Allah, memperbaiki ibadah, menata akhlak, serta meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Tanpa ilmu, ibadah akan kehilangan ruhnya, dan amal yang dikerjakan akan jauh dari tuntunan syariat.

‎Namun, dalam perjalanan menuntut ilmu, ada satu hal yang sangat penting untuk dijaga yaitu menjauhi kemaksiatan. Sebab, kemaksiatan dapat memadamkan cahaya ilmu dari hati seorang penuntut ilmu, inilah yang  ditekankan oleh para ulama terdahulu.

‎Nasehat Imam Waki’ kepada Imam Syafi’i

Kita tahu Imam Syafi’i adalah seorang yang luar biasa dalam keilmuan, bahkan di usia yang sangat masih muda beliau sudah mampu menghafal kitab Muwataa’ karya Imam Malik, dikenal dengan pribadi yang memiliki hafalan sangat kuat, namun di satu kesempatan Imam Syafi’i  pernah menyampaikan pengalamannya kepada gurunya, Imam Waki’, beliau mengadukan kesulitan dalam menghafal, lalu sang guru memberikan nasehat yang sangat berharga:

‎‎ شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي

‎فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي

‎وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ

‎وَنُورُ اللهِ لَا يُعْطَى لِعَاصِي

‎‎“Aku mengadukan kepada Waki’ tentang buruknya hafalan ku, lalu beliau menasihati ku agar meninggalkan maksiat. Dan beliau berkata: Ketahuilah, ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.”

Nasehat Imam Waki’ kepada Imam Syafi’i ini tentunya menjadi pelajaran yang mendalam bagi kita semua, bahwa kemaksiatan bukan hanya menjauhkan kita dari Allah, tetapi juga menghalangi masuknya cahaya ilmu ke dalam hati.

‎‎Oleh sebab itu, siapa saja yang ingin memperoleh keberkahan ilmu, hendaklah ia selalu mendekatkan dirinya dengan ketaatan, serta menghiasi dirinya dengan adab dan akhlak mulia. Sebab ilmu bukan sekedar catatan di buku atau hafalan di kepala saja, tetapi cahaya yang Allah tanamkan di dalam hati seorang hamba yang bersih dari dosa dan kemaksiatan.


Kesimpulan

‎‎Saudara ku, menuntut ilmu adalah kewajiban sepanjang usia, namun keberkahan ilmu hanya akan diraih jika kita menjaga hati dari noda kemaksiatan. Mari kita renungi kembali nasehat para ulama dan berupaya bersungguh-sungguh menjadikan ilmu sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jangan sampai cahaya ilmu yang begitu berharga itu padam karena ulah kita sendiri yang terjerumus dalam dosa.

Ketika Ibadah Tidak Membuat Kaya: Menjawab Keraguan Dengan Kacamata Islam

Oleh: Ust. Chandra Aditya
(Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri)
(Anggota PCM Mojoroto Kota Kediri)

‎Saudaraku…Didalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita sering mendengar keluhan dari sebagian orang yang tengah berada dalam kesulitan ekonomi atau keterbatasan hidup. Mereka berkata:
“Sudah capek-capek bekerja, kok tidak kaya-kaya juga? Sudah rajin sholat, ngaji, dan beribadah, tapi hidup tetap susah. Buat apa sholat? Buat apa ngaji kalau tidak bisa kaya?”

‎‎Tentunya kalimat semacam ini menggambarkan sebuah rasa kekecewaan dan kesalahpahaman sebagian manusia tentang tujuan hidup dan makna dari ibadah. Mereka mengukur nilai ibadah hanya dengan nilai duniawi, padahal Islam telah menjelaskan bahwa kekayaan bukanlah tujuan utama kehidupan, melainkan sarana untuk beribadah kepada Allah.

‎”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

‎‎Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama manusia diciptakan bukanlah untuk mengejar kekayaan, jabatan, atau kenikmatan dunia semata, melainkan untuk beribadah kepada Allah. Imam Al Ghazali  menjelaskan bahwa hakikat ibadah adalah mengarahkan seluruh hati kepada Allah dengan sepenuhnya, tunduk, dan ketaatan. Artinya, ibadah bukanlah transaksi untuk mendapatkan dunia, tetapi pertemuan seorang hamba dengan Rabb-nya.

‎‎Kekayaan hanyalah salah satu ujian yang Allah titipkan, ada orang yang Allah uji dengan kelapangan dan ada pula yang di uji dengan kesempitan, dan semua ini sama-sama ujian.

‎‎Kita bisa melihat dan membaca firman Allah pada ayat 155 surat Al-Baqarah:
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

‎‎Ayat ini menegaskan bahwa kemiskinan bukanlah tanda Allah tidak sayang, begitu pula kekayaan bukan berarti Allah ridha. Keduanya hanyalah bentuk ujian hidup. 

‎Oleh karena itu ibadah adalah solusi,  Bukan sebagai penghalang rezeki.

‎ ‎Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakan : 
‎”Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya jalan keluar (dari segala masalah) dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

‎‎Hadits ini menegaskan bahwa ibadah, taqwa, dan membangun kedekatan kepada Allah justru menjadi kunci utama datangnya rezeki. Rezeki bukan hanya berupa harta, tetapi juga kesehatan, ketenangan hati, keluarga yang baik, dan keberkahan dalam hidup.

‎‎Dan juga dikuatkan lagi didalam (Qs :  at-talaq ayat 2-3 ) bahwa ketaqwaan adalah kunci pembuka segala pintu rezeki

‎Agama Sebagai Solusi Kehidupan

‎Sudaraku…Islam bukan hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga memberikan solusi dalam menghadapi kesulitan hidup. Agama mengajarkan kesabaran, kerja keras, ikhtiar yang benar, serta tawakkal kepada Allah. Inilah fondasi utama yang membuat hidup menjadi tenang dan penuh keberkahan, meski tidak selalu bergelimang harta.

‎‎Allah berfirman:|
‎”Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
‎(QS. An-Nahl: 97)

‎‎Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan yang baik tidak selalu identik dengan kekayaan. Hidup yang baik adalah hidup yang penuh keberkahan, ketenangan hati, dan kebahagiaan yang Allah limpahkan.

‎‎Kesimpulan

‎‎Saudaraku… ketika muncul sebuah pertanyaan  “Buat apa sholat? Buat apa ngaji kalau tidak bisa kaya?”, jawaban Islam sudah sangat jelas , bahwa ibadah bukanlah jalan menuju kekayaan dunia, tetapi jalan menuju keberkahan hidup dan kebahagiaan akhirat. Kekayaan hanyalah ujian, sementara ibadah adalah kebutuhan jiwa.

‎ Agama adalah solusi dari setiap permasalahan, karena ia memberi arah, ketenangan, dan jawaban atas segala kebingungan hidup. Dengan ibadah, hati menjadi lapang, rezeki menjadi berkah, dan hidup memiliki tujuan yang sebenarnya.

Teruslah Berbuat Kebaikan, Agar Ketika Meninggalkan Dunia Kebaikanmu Akan Selalu Dikenang

Oleh : Chandra Aditya
(Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri)

Sudaraku…Dalam kehidupan kita didunia yang singkat ini, tentunya setiap manusia  mendambakan agar kehadirannya selalu memberikan sebuah arti yang bermakna, tidak ada satupun di antara kita yang ingin hidup tanpa meninggalkan bekas kebaikan. Inilah mengapa agama Islam menekankan akan pentingnya berbuat baik, karena kebaikan tidak hanya bermanfaat bagi orang lain saat kita masih hidup, tetapi juga akan menjadi legacy amal yang terus mengalir bahkan setelah kita tiada. Ini selaras dengan apa yang Allah firmankan di dalam surat Yasin ayat ke 12 :

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang nyata.”

Ayat ini menegaskan bahwa amal perbuatan setiap manusia tidak akan  pernah hilang begitu saja. Allaah selalu mencatat apa yang telah dilakukan hambanya selama hidup di dunia, bahkan bekas-bekas yang ditinggalkan setelah ia meninggalkan dunia ini. Inilah bukti bahwa kebaikan yang kita lakukan, sekecil apa pun itu, akan tetap selalu dikenang dan memberi dampak meskipun diri kita sudah tiada.

Warisan kebaikan yang tidak pernah hilang

Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menyampaikan :

“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Hadis ini tentu nya selaras dengan makna  surat Yasin ayat : 12 . bahwa setiap amal kebaikan akan terus mengalir meskipun seseorang itu sudah tiada.

* Sedekah jariyah : bisa dengan mewakafkan harta bendanya untuk kebaikan, membangun fasilitas umum  yang bermanfaat, atau dengan membangun sumur.

* Ilmu yang bermanfaat : mengajarkan membaca dan menulis , mengajarkan Al-Qur’an, atau memberi ilmu yang membawa kemaslahatan.

* Do’a anak shalih : dengan mendidik anak-anak kita agar menjadi pribadi yang beriman dan bertakwa, yang di harapkan nantinya ketika kita sudah tiada, kebaikan dan do’a mereka menjadi tambahan nikmat kebaikan untuk kita.

Saudaraku….ketiga hal ini adalah bentuk nyata dari jejak kebaikan yang disebut ayat diatas. Namun perlu kita ingat juga kebaikan yang dikenang tidaklah harus yang memiliki nilai besar dihadapan manusia, melainkan yang benar-benar ikhlas karena Allah, terkadang ada seseorang yang mungkin tidak dikenal luas, tetapi do’a dan rasa terimakasih dari orang-orang yang pernah ditolongnya akan menjadi saksi dihadapan Allah.

Ada seorang ahli hikmah mengatakan :

“Hiduplah dengan meninggalkan jejak, karena kematian bukanlah akhir. Sesungguhnya amal yang engkau tinggalkan yang akan menjadi saksi setelahmu”

Oleh sebab itu saudaraku…mari kita tanamkan kebaikan didalam setiap kesempatan kita, entah itu dengan : senyuman dan salam, menolong sesama, bergaul dengan baik, tidak menyakiti hati, atau dengan menebarkan ilmu yang bermanfaat.

Kesimpulan

Saudaraku…hidup ini singkat dan mati itu adalah kepastian. Namun yang menentukan apakah kita dikenang kebaikannya atau dilupakan begitu saja adalah amal yang kita tinggalkan. Surat Yasin ayat 12 mengingatkan kita bahwa Allah mencatat bukan hanya apa yang kita lakukan saja , tetapi juga bekas amal itu setelah kita tiada.

Maka mari kita terus berbuat kebaikan, sekecil apapun itu, karena kebaikan yang ditanam dengan rasa ikhlas akan menjadi legacy abadi yang mengalirkan pahala di alam kubur, dan meninggalkan kenangan indah untuk orang-orang yang masih hidup.