Warna-Warni Kreativitas Anak Bangsa: Lomba Mewarnai Meriahkan Milad ke-113 Muhammadiyah di Kota Kediri

Warna-Warni Kreativi

Kediri, 13 November 2025 — Nuansa ceria dan penuh semangat mewarnai SD Muhammadiyah Kota Kediri, Kamis (13/11/2025), saat digelarnya Lomba Mewarnai sebagai bagian dari Rangkaian Milad ke-113 Muhammadiyah yang diadakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Kediri. Acara yang diikuti lebih dari 150 anak usia dini dari TK ABA se-Kota Kediri ini menjadi tontonan menghangatkan hati, di mana kreativitas anak-anak bersinar di atas kertas putih.

Bertempat di Jl. Kilisuci No. IV/34, Kelurahan Singonegaran, Kecamatan Pesantren, SD Muhammadiyah Kota Kediri berperan sebagai tuan rumah dengan penyelenggaraan yang tertib, meriah dan penuh nilai edukatif. Anak-anak peserta tampak sangat antusias, duduk fokus memegang alat warna dan kertas gambar nya, mencurahkan imajinasi terbaik mereka pada gambar-gambar bertema Islami, lingkungan dan lainnya.

Foto oleh Panitia

Para orang tua duduk sabar mendampingi, memberi semangat dan sesekali membimbing dengan tidak mengambil alih. Suasana kekeluargaan terasa kental antara anak, orang tua, guru dan panitia.

Tidak hanya menjadi ajang pengembangan bakat, lomba ini juga turut menggerakkan roda ekonomi lokal. Sejumlah pelaku UMKM hadir membuka stan kuliner, menjual aneka jajanan sehat dan minuman segar. Ramainya pengunjung membuat omzet pedagang ikut meningkat, wujud nyata dakwah ekonomi yang berkemajuan.

Foto oleh Panitia

Acara seperti ini bukan sekedar lomba. Ini sarana pembentukan karakter anak yang disiplin, kreatif dan percaya diri. Sekaligus ruang bagi masyarakat untuk saling silaturrahim dan mendukung satu sama lain.

Dengan tema Milad Muhammadiyah kali ini “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”, lomba mewarnai menjadi simbol awal perjuangan panjang: ketika generasi muda diasah dengan kasih sayang, maka bangsa pun akan memiliki masa depan yang cerah.

“Anak-anak hari ini adalah pemimpin esok, mari kita warnai masa kecil mereka dengan cinta, ilmu dan kebaikan.” (mLs)

Gebyar Milad ke-113,

Kota Kediri – Tepat pada momen Milad ke-113 Muhammadiyah, Pimpinan Daearah Muhammadiyah (PDM) Kota Kediri dengan menggelorakan semangat “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”, mengadakan Rangkaian Acara Milad yang meriah, inspiratif dan penuh manfaat bagi masyarakat luas. Dari bakti sosial hingga e-sport, dari festival anak sholeh hingga khitanan massal gratis, semua digelar dengan visi dan misi Kemuhammadiyahan.

Bertepatan dengan tanggal kelahiran Muhammadiyah 18 November 1912 – 18 November 2025, PDM Kota Kediri menegaskan bahwa Milad bukan hanya sekedar perayaan, tapi juga sarana dakwah yang sangat penting.

KH. Ahmad Dahlan berwasiat: Aku titipkan Muhammadiyah kepada mu”, tentu saja dengan harapan ini dijaga dan dipelihara, dan wasiat ini bukan hanya ditujukan kepada jajaran pimpinan, tapi juga kepada seluruh lini yang ada di Muhammadiyah, termasuk semua Ortom dan juga AUM. Dengan titipan amanah ini maka wajib untuk menjaga, memelihara dan mengamalkannya dengan lurus.

Dengan semangat wasiat tersebut, Rangkaian Acara Milad sengaja dirancang agar dirasakan manfaatnya oleh siapa saja, bukan hanya warga Muhammadiyah, tapi juga masyarakat umum, inilah wujud nyata Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

🌟 Rangkaian Aksi Nyata dalam Milad ke-113 Muhammadiyah yang diadakan PDM Kota Kediri:

Sejak akhir Oktober hingga Desember Muhammadiyah Kota Kediri telah membuka pintu kebaikan lewat serangkaian program:

* Bakti Sosial (26 Oktober, 15 & 22 Nov): Pembagian kebutuhan untuk warga yang membutuhkan.

* Pemeriksaan Kesehatan Gratis (15 & 22 Nov): Layanan kesehatan dasar untuk masyarakat tanpa biaya.

* Apel dan Kirab Milad (18 & 27 Nov): Parade semarak di Komplek Perguruan Muhammadiyah, penuh warna dan semangat Islam dan kebangsaan.

* Lomba-Lomba Inovatif & Inklusif:

   – Lomba Mewarnai – mengasah kreatifitas (13 Nov)

   – Menyanyi Solo (26 Nov)

   – E-Sport – menjawab tantangan dakwah dengan cara anak muda (29 Nov)

   – Tenis Meja – forum olahraga plus silaturrahim masyarakat (30 Nov)

   – Videografi – ajang kreativitas generasi milenial dan z (10–24 Nov)

   – Festival Anak Sholeh – teridiri dari Lomba Da’i Cilik, Hafidz Qur’an, Kaligrafi dan juga Adzan (10 Des)

Dan acara puncak akan digelar pada 14 Desember 2025, dengan Resepsi Milad di Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM) Kota Kediri, menjadi ruang refleksi, syukur dan penyemangat perjuangan baru.

Sebagai penutup yang penuh berkah, Muhammadiyah Kota Kediri akan menggelar Khitanan Massal Gratis pada 25 Desember 2025 di RSM Ahmad Dahlan Kota Kediri, sebagai bentuk konkret dari menjalankan syariat, serta kepedulian terhadap kesehatan dan masa depan anak bangsa.

🎯 Milad Bukan Sekedar Perayaan, Tapi Gerakan

Di usia 113 tahun, Muhammadiyah tidak hanya merayakan masa lalu, tapi membangun masa depan. Melalui Rangkaian Acara Milad, organisasi berkemajuan ini membuktikan bahwa dakwah tidak hanya di mimbar, tapi juga di jalan raya, di panggung seni, di lapangan olahraga, di dunia online, dan di balik senyum anak-anak yang di khitan.

Semoga semua yang diusahakan ini mendapat ridho dari Allaah dan dicatat sebagai amal kebaikan yang besar, aamiin.


🎉 Mari bersama rayakan dan rasakan manfaatnya!
Untuk informasi lebih lanjut tentang kegiatan, hubungi Sekretaris Panitia:
Sdr. Edi Usman | WhatsApp: 0822.3307.2892


Penjelasan Kegiatan dan Pendaftaran

Maaf Khitan Gratis sudah closed (kuota 50 Anak terpenuhi) terima kasih

Pre Order Tembus 100

Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (FOKAL IMM) Kediri Raya meluncurkan buku 25 Tahun Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kediri Raya: Memoar dan Testimoni Kader. Karya ini menjadi penanda perjalanan panjang gerakan intelektual-keagamaan IMM di wilayah Kediri, sekaligus ikhtiar mengabadikan spirit perjuangan kader dari masa ke masa.

Buku setebal kurang lebih 210 halaman ini berisi rangkaian memoar, pengalaman, gagasan, refleksi, serta testimoni kader yang pernah berproses di IMM Kediri Raya. Para penulisnya berasal dari berbagai generasi: mulai dari yang terlibat dalam perintisan organisasi hingga kader yang aktif pada periode terkini.

“IMM adalah rumah ide, ruang bertumbuh, tempat kita belajar tentang keberpihakan dan keberanian berpikir. Maka perjalanan ini perlu ditulis agar tidak hilang ditelan waktu,” ungkap Nico Perlambang Agung, editor sekaligus koordinator penyusunan buku.

Dalam prolog yang dituliskan secara khusus, Prof. Fauzan Saleh, Guru Besar Emeritus Universitas Muhammadiyah Surabaya, memberi penekanan bahwa perjalanan IMM bukan sekadar sejarah organisasi, tetapi perjalanan kebudayaan dalam membentuk jatidiri.

“Setiap organisasi memiliki garis sejarahnya sendiri. IMM membentuk kadernya bukan hanya untuk menjadi pemikir, tetapi juga pribadi yang sanggup memikul amanah kemanusiaan,” tulis beliau dalam buku tersebut.

Menurutnya, menuliskan pengalaman kaderisasi adalah bentuk tanggung jawab intelektual. Ingatan yang tidak dicatat akan hilang, tetapi ingatan yang ditulis dapat hidup kembali dan menghidupkan generasi baru.

Peluncuran buku ini sekaligus menjadi upaya menjaga kesinambungan ingatan kolektif, meneguhkan identitas, serta memberikan inspirasi bagi kader muda agar tetap berpegang pada nilai-nilai gerakan Muhammadiyah: ilmu, amal, dan dakwah pencerahan.

*Antusias Tinggi, 100 Eksemplar Pertama Telah Terpesan*

Pre order buku ini dibuka sejak 22 Oktober 2025. Dalam waktu singkat, 100 eksemplar pertama telah terpesan oleh kader dan alumni IMM dari berbagai daerah.

Pada tahap pertama, harga pre order dipatok Rp 55.000 untuk 100 pemesan awal. Setelah kuota tersebut terpenuhi, pemesanan selanjutnya akan menggunakan harga normal, yaitu Rp 80.000.

“Antusiasme ini menunjukkan bahwa gerakan intelektual dan kultural IMM masih hidup dan dirindukan. Banyak yang ingin kembali mengenang masa pembinaan, diskusi, hingga aksi-aksi sosial kemasyarakatan yang pernah dijalankan,” jelas Bachrul Ihsan, inisiator pembuatan buku ini.

Bukan sekadar mengenang, buku ini juga merekam dinamika IMM Kediri Raya dalam menghadapi perubahan sosial, perkembangan gerakan mahasiswa, hingga tantangan zaman yang berbeda di setiap periode.

Dalam bagian testimoni, pembaca akan menemukan banyak kisah yang bukan hanya menyentuh secara emosional, tetapi juga memperlihatkan bagaimana IMM membentuk karakter kader menjadi pribadi yang berfikir kritis, berakhlak, dan siap berkontribusi untuk umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Dengan hadirnya buku ini, IMM Kediri Raya berharap lahir semangat baru dalam menumbuhkan kembali tradisi membaca, menulis, dan berpikir kritis di kalangan mahasiswa dan anak muda Muhammadiyah.

Bagi yang belum mendapatkan buku ini, penjualan gelombang selanjutnya telah dibuka. Harga Normal: Rp 80.000

AYO DAPATKAN SEGERA!

Klinik Ar Fachrudin

Kediri 11 September 2025 — Dalam rangka mendukung kesehatan peserta didik, Klinik Ar Fachrudin Kota Kediri secara rutin melaksanakan kegiatan kunjungan pemeriksaan dan penyuluhan kesehatan ke sejumlah sekolah mitra. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Dana Sehat Sekolah yang telah berjalan bekerja sama dengan lembaga pendidikan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Kota Kediri.

Setiap tiga bulan sekali, tim medis dari Klinik Ar Fachrudin—terdiri dari dokter umum dan dokter gigi—melakukan pemeriksaan kesehatan berkala, skrining gigi dan mulut, serta edukasi pentingnya hidup bersih, perawatan gigi, dan pola hidup sehat bagi siswa.

Kegiatan yang dilaksanakan dengan penuh kepedulian ini tidak hanya bertujuan mendeteksi dini masalah kesehatan, tetapi juga membentuk kesadaran sejak dini agar anak-anak tumbuh sebagai generasi yang sehat, ceria, dan produktif.

“Semoga program ini terus berjalan secara berkelanjutan dan membawa manfaat luas bagi kemajuan dan kesejahteraan umat,” ujar pihak klinik. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Dengan semangat dari kita untuk kita, Klinik Ar Fachrudin berkomitmen menjadi mitra utama dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang sehat dan peduli. (mLs)

Klinik Ar Fachrudin

Kediri, 6-9 September 2025 — Dalam upaya mendukung tumbuh kembang anak yang optimal, Klinik Ar Fachrudin Kota Kediri secara resmi meluncurkan Program Kesehatan Sekolah, sebuah inisiatif strategis yang ditujukan untuk memastikan kesejahteraan fisik dan mental peserta didik di lingkungan sekolah Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Kota Kediri.

Program ini merupakan bentuk komitmen nyata dari Klinik Ar Fachrudin dalam membentuk generasi penerus yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sehat, kuat, dan berkualitas. “Ini program dari kita, untuk kita,” ujar drg. Anis Khoirin Hayati, Wakil Pimpinan Klinik Ar Fachrudin, saat ditemui usai penandatanganan kerja sama.

“Dengan menggunakan dana kesehatan sekolah, kami ingin memastikan bahwa layanan kesehatan bagi anak-anak pelajar dapat terjangkau, terstruktur, dan berkelanjutan. Karena masa depan umat dimulai dari kesehatan anak-anak hari ini,” tambahnya.

Peluncuran program ini ditandai dengan serangkaian penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan tiga institusi pendidikan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Kota Kediri:

  1. Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pesantren – untuk SD Muhammadiyah, ditandatangani pada 6 September 2025.
  2. Majelis PAUDDASMEN Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kota Kediri – mencakup TK ABA I hingga X, disepakati pada 7 September 2025.
  3. Majelis DIKDASMEN Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Pesantren – untuk jenjang SMP, SMA, SMK 1 dan 2 Muhammadiyah Kota Kediri, ditandatangani pada 9 September 2025.

Melalui kerja sama ini, Klinik Ar Fachrudin akan menyediakan layanan kesehatan rutin seperti pemeriksaan kesehatan berkala, skrining gigi dan mulut, imunisasi, edukasi kesehatan remaja, serta penanganan kasus ringan di lingkungan sekolah. Selain itu, klinik juga akan memberikan pelatihan kepada guru dan tenaga kependidikan dalam deteksi dini masalah kesehatan siswa.

“Kami percaya bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar ilmu, tapi juga harus menjadi lingkungan yang mendukung kesehatan. Dengan kolaborasi ini, harapannya tidak ada lagi siswa yang absen karena masalah kesehatan yang bisa dicegah,” jelas drg. Anis.

Program Kesehatan Sekolah ini juga menjadi bagian dari visi lebih besar Klinik Ar Fachrudin sebagai fasilitas kesehatan yang tidak hanya melayani, tetapi juga turut serta dalam pembangunan kesehatan komunitas secara preventif dan edukatif. Dengan semangat gotong royong dan kepedulian bersama, Klinik Ar Fachrudin menegaskan bahwa investasi terbaik untuk masa depan adalah menjaga kesehatan anak-anak sejak dini—karena generasi sehat adalah pondasi umat yang kuat dan berkah. (mLs)

‎Keteguhan Hati da

Oleh: Chandra Aditya
(Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri)


‎Saudara ku di sebuah sudut SPBU, terlihat seorang bapak tua duduk sederhana dengan topi hitamnya. Di tangannya tergenggam sebuah keranjang berisi pisang rebus dan tahu goreng  yang ia jual. Di usianya yang sudah renta, ia tetap berusaha mencari rezeki dengan keringat sendiri, tanpa bergantung pada belas kasihan orang lain. Pemandangan ini sesungguhnya menyimpan pesan besar tentang makna hidup untuk diri kita.


‎Mencari Rezeki Halal

‎‎Islam menjadikan cara mencari rezeki yang halal sebagai bagian dari ibadah. Bahkan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menyatakan “Tidaklah seorang memakan makanan yang lebih baik dari hasil usaha tangannya sendiri. Dan sungguh Nabi Dawud makan dari hasil usahanya sendiri”. (Hadist Riwayat Bukhari)

‎‎Oleh karena itu kita melihat betapa mulianya seseorang yang meskipun sudah tua, tetap memilih jalan yang halal, sekalipun hasilnya tidak seberapa. Tidak ada keraguan bahwa usaha kecil yang dilakukan dengan hati yang ikhlas lebih bernilai di sisi Allah dibandingkan dengan harta banyak  yang diperoleh dengan cara haram.

‎‎Usaha bapak tua ini juga menjadi pengingat untuk dirikita bahwa ikhtiar tidak mengenal usia. Tawakkal kepada Allah bukanlah duduk diam menunggu datangnya pertolongan, melainkan harus terus bergerak, berusaha, dan  menyerahkan sepenuhnya kepada Sang Pemberi Rezeki. 

‎Kita sering mendengar, sabda Rasulullah tentang Seekor burung yang keluar dari sarangnya di pagi hari lalu kembali di sore hari dalam keadaan kenyang adalah contoh nyata dari hakikat tawakkal. Demikian pula kita sebagai manusia, hendaknya tidak meninggalkan ikhtiar meskipun mungkin usia sudah tidak muda lagi.

‎‎Di balik sosok bapak tua yang hebat itu , ada buah kesabaran yang luar biasa. Tidak peduli Panas, hujan, dan beban hidup  yang tidak menyurutkan langkah kakinya untuk tetap berjualan. Kesabaran dalam menghadapi keterbatasan adalah tanda keteguhan iman. Allah  menjanjikan kabar gembira untuk mereka yang selalu bersabar:

‎‎”Dan sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”
(Qs. Al-Baqarah: 155)

‎Dan di dalam kesabaran itulah tersimpan kekuatan yang membuat seorang Muslim tetap kuat, meskipun segala macam ujian kehidupan terus menimpa.

‎‎Saudara ku pemandangan seperti ini seharusnya juga menjadi cermin untuk  generasi muda. Jika seorang bapak tua saja masih berjuang mencari rezeki dengan cara yang halal, bagaimana mungkin anak muda yang tubuhnya masih kuat justru bermalas-malasan, atau bahkan mencari jalan pintas yang haram?  Lelah karena bekerja mencari yang halal adalah kelelahan yang mendatangkan ampunan Allah, sedangkan kemalasan hanya akan menjadikan sebuah penyesalan.

‎‎Rasulullah juga memperingatkan dengan sabdanya:
“Barangsiapa yang terus-menerus meminta-minta kepada manusia, maka di Hari Kiamat ia akan datang dalam keadaan wajahnya tidak ada dagingnya sama sekali.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

‎‎Hadits ini mengingatkan kita bahwa meminta-minta tanpa kebutuhan yang mendesak adalah kehinaan di dunia sekaligus azab di akhirat. Sebaliknya, bapak tua penjual pisang dan tahu goreng  ini lebih memilih menjaga kehormatan dirinya dengan tetap berusaha mencari nafkah, walaupun dengan cara yang sederhana.


‎‎Penutup

‎‎Gambar sederhana tentang bapak tua penjual pisang dan tahu goreng di sudut SPBU ini bukan sekadar potret sosial, melainkan cermin keteguhan  keimanan yang nyata. Dari sana kita bisa belajar tentang kesungguhan mencari rezeki halal, keteguhan hati dalam bertawakkal, kesabaran dalam menjalani hidup, dan juga teguran bagi mereka yang masih muda agar tidak bermalas-malasan.

‎‎Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hambanya yang selalu ikhlas dalam berusaha, bersabar dalam menghadapi setiap ujian, serta selalu menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah.

‎‎* Foto ini saya ambil dari dalam mobil ketika akan safar ke Surabaya, sengaja dijadikan model kartun untuk menjaga privasi beliau.

Mengapa Nasehat Haru

Oleh : Chandra Aditya
(Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri)

‎Saudara ku dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita mendengar nasihat yang sama diulang-ulang. Entah dari orang tua, guru, ustaz, ataupun para ulama. Terkadang muncul sebuah pertanyaan, “Mengapa nasihat harus diulangi terus, padahal sudah pernah disampaikan?”.

Kalau kita melihat dengan pandangan Islam, tentunya pengulangan nasihat itu justru memiliki hikmah dan nilai yang sangat besar. ‎Kita sebagai manusia pada dasarnya adalah makhluk yang mudah lupa. Oleh karena itulah, manusia sangat membutuhkan pengingat. Allah sudah menegaskan dalam Al-Qur’an:

‎“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.”
‎(QS. Adz-Dzariyat: 55)

‎‎Ayat ini menunjukkan bahwa nasihat yang diulang-ulang bukanlah hal yang sia-sia, melainkan sarana agar hati yang lalai kembali sadar.

‎Nasihat juga ibarat obat hati. Sebagaimana tubuh membutuhkan makanan setiap hari agar kuat, hati pun juga memerlukan makanan iman secara terus-menerus agar tetap hidup. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sering mengulang-ulang nasihat penting kepada para sahabatnya, terutama tentang pentingnya salat, memiliki akhlak yang baik, serta menjaga lisan. Hal ini dilakukan karena hati manusia bisa mengeras, dan hanya dengan pengingat yang terus diberikan hati dapat menjadi lembut kembali.

‎Selain itu ilmu dan pesan nasihat kebaikan yang hanya didengar sekali mudah hilang begitu saja. Dengan pengulangan, nasihat akan lebih kuat tertanam di dalam jiwa. Bahkan Al-Qur’an pun berulang kali menceritakan kisah para nabi dan mengingatkan kita tentang kebesaran Allah serta hari kiamat. Semua itu memiliki hikmah yang besar, yaitu agar manusia semakin ingat, semakin paham, dan semakin siap dalam menghadapi kehidupan.

‎Nasihat yang terus kali diulang, disampaikan, bukan berarti hanya untuk orang lain saja, tetapi juga untuk diri kita sendiri. Setiap kali mendengar nasihat, sesungguhnya itu adalah cermin bagi hati kita, agar kembali muhasabah. Bahkan seorang ustaz atau ulama, ketika menyampaikan nasihat, sebenarnya sedang menasihati dirinya terlebih dahulu.

‎Pengulangan nasihat juga merupakan wujud kasih sayang. Orang tua yang tak pernah lelah mengingatkan anaknya untuk salat, guru yang terus selalu mengingatkan pentingnya kejujuran, atau ulama yang berkali-kali menyeru umat agar bertakwa semuanya itu adalah tanda perhatian, kepedulian serta kasih sayang. Karena sekali saja manusia lalai, ia bisa terjerumus dalam dosa yang besar.

‎Lebih dari itu, setiap zaman ada masanya, dan setiap masa ada orangnya. Kita juga perlu mengingat bahwa akan selalu ada generasi penerus kedepan yang hadir, maka nasihat harus terus diulang agar mereka pun mendapatkan bimbingan. Apa yang kita dengar hari ini bisa menjadi bekal penting bagi anak-anak kita di masa depan. Dengan demikian, nasihat tidak akan pernah hilang, justru selalu relevan dari waktu ke waktu.

Belum tentu pula semua orang di sekitar kita sudah memahami agama. Ada yang baru belajar, ada yang masih lalai, bahkan ada yang sama sekali belum mengenalnya dengan baik. Oleh karena itu dengan terus menyampaikan nasihat, yang belum tahu akan menjadi tahu, yang lupa bisa diingatkan, dan yang sudah paham akan semakin kuat dalam keyakinannya.

‎Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sudah mengingatkan kita bahwa: ‎ “agama adalah nasihat”. (HR. Muslim)

‎Tentunya ini mengisyaratkan bahwa nasihat adalah inti dari agama, sehingga memang harus disampaikan terus-menerus.

‎Saudaraku mengulang-ulang nasihat bukanlah tanda kebosanan, melainkan tanda kasih sayang. Sebagaimana Al-Qur’an berulang kali mengingatkan kita tentang tauhid, sabar, syukur, dan takwa, demikian pula nasihat dalam kehidupan kita sehari-hari.

Nasihat adalah cahaya penuntun, pengingat yang akan menyelamatkan, dan pengulangan adalah bukti cinta dan kasih sayang. Setiap zaman akan berganti, setiap generasi akan lahir, dan tidak semua orang memahami agama dengan baik. Maka selama itu pula, nasihat harus terus disampaikan, agar manusia selalu berada di jalan kebenaran.

Kasih Sayang Orang T

Oleh: Chandra Aditya
(Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri)

‎Saudara ku Islam menjadikan kasih sayang orang tua sebagai fondasi utama dalam mendidik anak. Orang tua bukan hanya sebagai pemberi nafkah saja , tetapi juga menjadi seorang pembimbing, pengarah, dan teladan untuk anak. Anak adalah amanah yang dititipkan Allah, yang pastinya nanti akan dimintai pertanggung jawaban.

‎‎“Wahai orang orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. (Qs. At-Tahrim: 6)

‎‎Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa bentuk kasih sayang orang tua terbesar adalah menjaga anak-anaknya dari api neraka, yaitu dengan mendidik mereka untuk mengenal Allah, membimbing untuk beribadah dan memberikan keteladanan dengan akhlak yang mulia.

‎‎Banyak orang tua yang beranggapan bahwa kasih sayang mereka kepada anak  cukup hanya dengan memberikan makanan enak, pakaian bagus, serta fasilitas yang mereka inginkan. Padahal kasih sayang orang tua yang nyata kepada anak adalah dengan membimbing mereka agar bisa selamat dunia dan akhirat.


‎Wasiat Emas Lukmanul Hakim

‎‎Luqmanul Hakim, seorang hamba Allah yang memberikan keteladanan serta bimbingan kepada anaknya, diabadikan dalam Al-Qur’an untuk menjadi contoh  orang tua masa kini, agar bisa mendidik, membimbing, anak-anak mereka menjadi anak yang shalih dan shalihah, selamat dunia dan akhirat. Terdapat dua pendapat tentang Luqmanul Hakim, pendapat pertama mengatakan bahwa Luqmanul Hakim ini adalah seorang nabi, pendapat kedua mengatakan bahwa Luqmanul Hakim adalah seorang yang Shalih. Dan mayoritas para ulama bersepakat bahwa Luqmanul Hakim adalah orang yang Shalih, yang diberikan hikmah oleh Allah. 

‎Diabadikan dalam Al-Qur’an tepatnya dalam surat Luqman ayat 12-19. Hal ini menjadi bukti bahwa nasihat orang tua adalah bentuk  kasih sayang  yang teramat besar untuk anaknya.


‎* Menanamkan Tauhid

‎‎‎“Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya syirik itu benar-benar kedzaliman yang besar”. (Qs. Luqman: 13)

‎‎Ayat ini adalah bukti kasih sayang orang tua yang tidak ingin anaknya tersesat. Ia mengarahkan anaknya kepada tauhid agar kehidupannya penuh keberkahan. Tauhid adalah fondasi utama yang harus kita ajarkan kepada anak, tanpa tauhid segala prestasi, harta, dan kedudukan yang dicapai seorang anak tidak ada nilainya disisi Allah.


* Mengajarkan untuk berbakti dan bersyukur

‎‎ ” Dan Kami perintahkan manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Luqman: 14)

‎‎Ayat ke 14 ini merupakan firman Allah yang disisipkan ditengah tengah nasehat Luqman kepada anaknya, terlepas dari itu kewajiban untuk mengajarkan anak berbakti kepada orang tua adalah mutlak adanya, karena anak bisa hadir di dunia, juga adanya sebab orang tua. Oleh sebab itu berbakti kepada orang tua dan bersyukur adalah keseimbangan kasih sayang terhadap manusia dan Allah.


‎* Membiasakan beribadah

‎”Wahai anakku dirikanlah shalat” (Qs. Luqman: 17)

‎‎Di ayat ini Luqman menyampaikan”wahai anakku dirikanlah shalat” , tentunya ini merupakan  kasih sayang orang tua yang penuh kasih tidak hanya menyuruh anaknya untuk belajar, dan mencari dunia saja, tetapi juga membiasakan ibadah sejak kecil. Karena shalat adalah fondasi utama untuk membentuk karakter akhlak yang baik serta penjaga jiwa dari sifat tercela.

‎‎Setelah itu dikalimat yang berikutnya (Qs. Luqman: 17) Luqman mengajarkan akan pentingnya amar ma’ruf nahi munkar dan kesabaran, artinya seorang anak harus di didik untuk memiliki sikap tegas dalam kebenaran dan bersabar ketika ujian hidup itu menimpa.


‎* Mendidik akhlak dan kesopanan

‎”Janganlah engkau memalingkan wajah dari manusia dengan sombong dan jangan berjalan di bumi dengan angkuh.” (QS. Luqman: 18)

‎‎Di ayat ini Luqman menutup nasehat kepada anaknya untuk tidak berperilaku sombong dan suka merendahkan yang lain, tentunya ini adalah pelajaran penting orang tua untuk mengajarkan dan mendidik anak agar memiliki akhlak yang baik , mengajarkan kerendahan hati , sopan santun dan sederhana dalam pergaulan. 

‎Sejalan dengan itu memang benar kita hidup didunia ini tidak boleh sombong dan angkuh, serta suka merendahkan orang lain. Diayat yang lain Allah sudah menegaskan: 

‎”Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung”. ‎(Qs. Al-Isra’: 37) 


‎Kondisi Zaman Sekarang

‎‎Saudara ku hari ini kita hidup di zaman modern yang penuh dengan tantangan. Anak-anak lebih dekat dengan gadget mereka  dibanding dengan orang tuanya. Banyak orang tua yang sibuk mencari nafkah hingga lupa mendidik anak. Bahkan ada orang tua yang sudah merasa cukup hanya dengan memasukkan anak ke sekolah, tanpa mendampingi mereka dalam ibadah dan akhlak. Kita sudah diingatkan oleh Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, bahwa masing masing dari kita ini adalah pemimpin yang nantinya akan dimintai pertanggung jawaban terhadap yang dipimpinnya: 

‎‎”Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari Muslim)

‎Maka, orang tua adalah pemimpin dalam rumah tangga, dan anak-anak adalah amanah yang harus kita jaga dengan kasih sayang. 


Penutup

‎‎Saudara ku mari kita jadikan kisah Luqmanul Hakim ini sebagai keteladanan dalam mendidik anak-anak kita. Tunjukkan kasih sayang dengan mengajarkan tauhid, membimbing mereka dalam ibadah, menanamkan akhlak mulia, serta mendoakan mereka dalam setiap kesempatan.

‎‎Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang tua yang penuh kasih sayang, dan menjadikan anak-anak kita sebagai generasi yang shalih dan shalihah, agar menjadi penyejuk mata di dunia, serta pemberi syafa’at di akhirat kelak.

Jangan Padamkan Caha

Oleh : Chandra Aditya
(Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri)

‎Saudara ku, ada sebuah nasehat yang tertulis di dalam Kitab Ta’lim Muta’allim karya Imam Burhanuddin Az-Zarnuji, kitab yang masyhur di kalangan pesantren bahkan juga sering menghiasi kajian-kajian di majelis taklim pada umumnya. Begitu banyak nasehat dan motivasi yang tertulis di dalam kitab tersebut untuk mendorong semangat para pencari ilmu dalam proses belajar mereka.

‎‎Nasehat itu sejatinya tidak hanya diperuntukkan bagi para pelajar di bangku sekolah atau santri di pondok pesantren saja, tetapi berlaku untuk setiap muslim. Dalam Islam, kewajiban menuntut ilmu itu tidak dibatasi oleh usia, jabatan, ataupun status sosial. Selama Allah masih memberikan usia, kewajiban  menuntut ilmu tetap melekat pada diri setiap muslim, sebagaimana yang Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sabdakan:

‎‎“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.”
(HR. Ibnu Majah)

Hadits ini tentunya menjadi dasar bahwa ilmu adalah jalan bagi seorang hamba untuk mengenal Allah, memperbaiki ibadah, menata akhlak, serta meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Tanpa ilmu, ibadah akan kehilangan ruhnya, dan amal yang dikerjakan akan jauh dari tuntunan syariat.

‎Namun, dalam perjalanan menuntut ilmu, ada satu hal yang sangat penting untuk dijaga yaitu menjauhi kemaksiatan. Sebab, kemaksiatan dapat memadamkan cahaya ilmu dari hati seorang penuntut ilmu, inilah yang  ditekankan oleh para ulama terdahulu.

‎Nasehat Imam Waki’ kepada Imam Syafi’i

Kita tahu Imam Syafi’i adalah seorang yang luar biasa dalam keilmuan, bahkan di usia yang sangat masih muda beliau sudah mampu menghafal kitab Muwataa’ karya Imam Malik, dikenal dengan pribadi yang memiliki hafalan sangat kuat, namun di satu kesempatan Imam Syafi’i  pernah menyampaikan pengalamannya kepada gurunya, Imam Waki’, beliau mengadukan kesulitan dalam menghafal, lalu sang guru memberikan nasehat yang sangat berharga:

‎‎ شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي

‎فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي

‎وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ

‎وَنُورُ اللهِ لَا يُعْطَى لِعَاصِي

‎‎“Aku mengadukan kepada Waki’ tentang buruknya hafalan ku, lalu beliau menasihati ku agar meninggalkan maksiat. Dan beliau berkata: Ketahuilah, ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.”

Nasehat Imam Waki’ kepada Imam Syafi’i ini tentunya menjadi pelajaran yang mendalam bagi kita semua, bahwa kemaksiatan bukan hanya menjauhkan kita dari Allah, tetapi juga menghalangi masuknya cahaya ilmu ke dalam hati.

‎‎Oleh sebab itu, siapa saja yang ingin memperoleh keberkahan ilmu, hendaklah ia selalu mendekatkan dirinya dengan ketaatan, serta menghiasi dirinya dengan adab dan akhlak mulia. Sebab ilmu bukan sekedar catatan di buku atau hafalan di kepala saja, tetapi cahaya yang Allah tanamkan di dalam hati seorang hamba yang bersih dari dosa dan kemaksiatan.


Kesimpulan

‎‎Saudara ku, menuntut ilmu adalah kewajiban sepanjang usia, namun keberkahan ilmu hanya akan diraih jika kita menjaga hati dari noda kemaksiatan. Mari kita renungi kembali nasehat para ulama dan berupaya bersungguh-sungguh menjadikan ilmu sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jangan sampai cahaya ilmu yang begitu berharga itu padam karena ulah kita sendiri yang terjerumus dalam dosa.

Ketika Ibadah Tidak

Oleh: Ust. Chandra Aditya
(Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri)
(Anggota PCM Mojoroto Kota Kediri)

‎Saudaraku…Didalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita sering mendengar keluhan dari sebagian orang yang tengah berada dalam kesulitan ekonomi atau keterbatasan hidup. Mereka berkata:
“Sudah capek-capek bekerja, kok tidak kaya-kaya juga? Sudah rajin sholat, ngaji, dan beribadah, tapi hidup tetap susah. Buat apa sholat? Buat apa ngaji kalau tidak bisa kaya?”

‎‎Tentunya kalimat semacam ini menggambarkan sebuah rasa kekecewaan dan kesalahpahaman sebagian manusia tentang tujuan hidup dan makna dari ibadah. Mereka mengukur nilai ibadah hanya dengan nilai duniawi, padahal Islam telah menjelaskan bahwa kekayaan bukanlah tujuan utama kehidupan, melainkan sarana untuk beribadah kepada Allah.

‎”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

‎‎Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama manusia diciptakan bukanlah untuk mengejar kekayaan, jabatan, atau kenikmatan dunia semata, melainkan untuk beribadah kepada Allah. Imam Al Ghazali  menjelaskan bahwa hakikat ibadah adalah mengarahkan seluruh hati kepada Allah dengan sepenuhnya, tunduk, dan ketaatan. Artinya, ibadah bukanlah transaksi untuk mendapatkan dunia, tetapi pertemuan seorang hamba dengan Rabb-nya.

‎‎Kekayaan hanyalah salah satu ujian yang Allah titipkan, ada orang yang Allah uji dengan kelapangan dan ada pula yang di uji dengan kesempitan, dan semua ini sama-sama ujian.

‎‎Kita bisa melihat dan membaca firman Allah pada ayat 155 surat Al-Baqarah:
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

‎‎Ayat ini menegaskan bahwa kemiskinan bukanlah tanda Allah tidak sayang, begitu pula kekayaan bukan berarti Allah ridha. Keduanya hanyalah bentuk ujian hidup. 

‎Oleh karena itu ibadah adalah solusi,  Bukan sebagai penghalang rezeki.

‎ ‎Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakan : 
‎”Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya jalan keluar (dari segala masalah) dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

‎‎Hadits ini menegaskan bahwa ibadah, taqwa, dan membangun kedekatan kepada Allah justru menjadi kunci utama datangnya rezeki. Rezeki bukan hanya berupa harta, tetapi juga kesehatan, ketenangan hati, keluarga yang baik, dan keberkahan dalam hidup.

‎‎Dan juga dikuatkan lagi didalam (Qs :  at-talaq ayat 2-3 ) bahwa ketaqwaan adalah kunci pembuka segala pintu rezeki

‎Agama Sebagai Solusi Kehidupan

‎Sudaraku…Islam bukan hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga memberikan solusi dalam menghadapi kesulitan hidup. Agama mengajarkan kesabaran, kerja keras, ikhtiar yang benar, serta tawakkal kepada Allah. Inilah fondasi utama yang membuat hidup menjadi tenang dan penuh keberkahan, meski tidak selalu bergelimang harta.

‎‎Allah berfirman:|
‎”Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
‎(QS. An-Nahl: 97)

‎‎Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan yang baik tidak selalu identik dengan kekayaan. Hidup yang baik adalah hidup yang penuh keberkahan, ketenangan hati, dan kebahagiaan yang Allah limpahkan.

‎‎Kesimpulan

‎‎Saudaraku… ketika muncul sebuah pertanyaan  “Buat apa sholat? Buat apa ngaji kalau tidak bisa kaya?”, jawaban Islam sudah sangat jelas , bahwa ibadah bukanlah jalan menuju kekayaan dunia, tetapi jalan menuju keberkahan hidup dan kebahagiaan akhirat. Kekayaan hanyalah ujian, sementara ibadah adalah kebutuhan jiwa.

‎ Agama adalah solusi dari setiap permasalahan, karena ia memberi arah, ketenangan, dan jawaban atas segala kebingungan hidup. Dengan ibadah, hati menjadi lapang, rezeki menjadi berkah, dan hidup memiliki tujuan yang sebenarnya.

1 2 3 4 5 7