Jangan Padamkan Cahaya Ilmu dengan Kemaksiatan

Oleh : Chandra Aditya
(Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri)

‎Saudara ku, ada sebuah nasehat yang tertulis di dalam Kitab Ta’lim Muta’allim karya Imam Burhanuddin Az-Zarnuji, kitab yang masyhur di kalangan pesantren bahkan juga sering menghiasi kajian-kajian di majelis taklim pada umumnya. Begitu banyak nasehat dan motivasi yang tertulis di dalam kitab tersebut untuk mendorong semangat para pencari ilmu dalam proses belajar mereka.

‎‎Nasehat itu sejatinya tidak hanya diperuntukkan bagi para pelajar di bangku sekolah atau santri di pondok pesantren saja, tetapi berlaku untuk setiap muslim. Dalam Islam, kewajiban menuntut ilmu itu tidak dibatasi oleh usia, jabatan, ataupun status sosial. Selama Allah masih memberikan usia, kewajiban  menuntut ilmu tetap melekat pada diri setiap muslim, sebagaimana yang Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sabdakan:

‎‎“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.”
(HR. Ibnu Majah)

Hadits ini tentunya menjadi dasar bahwa ilmu adalah jalan bagi seorang hamba untuk mengenal Allah, memperbaiki ibadah, menata akhlak, serta meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Tanpa ilmu, ibadah akan kehilangan ruhnya, dan amal yang dikerjakan akan jauh dari tuntunan syariat.

‎Namun, dalam perjalanan menuntut ilmu, ada satu hal yang sangat penting untuk dijaga yaitu menjauhi kemaksiatan. Sebab, kemaksiatan dapat memadamkan cahaya ilmu dari hati seorang penuntut ilmu, inilah yang  ditekankan oleh para ulama terdahulu.

‎Nasehat Imam Waki’ kepada Imam Syafi’i

Kita tahu Imam Syafi’i adalah seorang yang luar biasa dalam keilmuan, bahkan di usia yang sangat masih muda beliau sudah mampu menghafal kitab Muwataa’ karya Imam Malik, dikenal dengan pribadi yang memiliki hafalan sangat kuat, namun di satu kesempatan Imam Syafi’i  pernah menyampaikan pengalamannya kepada gurunya, Imam Waki’, beliau mengadukan kesulitan dalam menghafal, lalu sang guru memberikan nasehat yang sangat berharga:

‎‎ شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي

‎فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي

‎وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ

‎وَنُورُ اللهِ لَا يُعْطَى لِعَاصِي

‎‎“Aku mengadukan kepada Waki’ tentang buruknya hafalan ku, lalu beliau menasihati ku agar meninggalkan maksiat. Dan beliau berkata: Ketahuilah, ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.”

Nasehat Imam Waki’ kepada Imam Syafi’i ini tentunya menjadi pelajaran yang mendalam bagi kita semua, bahwa kemaksiatan bukan hanya menjauhkan kita dari Allah, tetapi juga menghalangi masuknya cahaya ilmu ke dalam hati.

‎‎Oleh sebab itu, siapa saja yang ingin memperoleh keberkahan ilmu, hendaklah ia selalu mendekatkan dirinya dengan ketaatan, serta menghiasi dirinya dengan adab dan akhlak mulia. Sebab ilmu bukan sekedar catatan di buku atau hafalan di kepala saja, tetapi cahaya yang Allah tanamkan di dalam hati seorang hamba yang bersih dari dosa dan kemaksiatan.


Kesimpulan

‎‎Saudara ku, menuntut ilmu adalah kewajiban sepanjang usia, namun keberkahan ilmu hanya akan diraih jika kita menjaga hati dari noda kemaksiatan. Mari kita renungi kembali nasehat para ulama dan berupaya bersungguh-sungguh menjadikan ilmu sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jangan sampai cahaya ilmu yang begitu berharga itu padam karena ulah kita sendiri yang terjerumus dalam dosa.

Leave Comments